RadarBuleleng.id – Kasus ulah pati atau bundir di Bali menjadi sorotan. Apalagi lebih dari 40 persen kasus ulah pati di Bali, terjadi di kalangan remaja.
Berbagai faktor pun turut berpengaruh. Mulai dari persoalan asmara hingga krisis pencarian jati diri.
Psikolog klinis dan hipnoterapis RSUD Wangaya serta Bali Psikologi, Nena Mawar Sari mengungkapkan, berbagai faktor pemicu itu sangat kompleks. Kondisi itu diperparah dengan media sosial.
Lewat media sosial, remaja mulai membandingkan standar hidupnya. Kerap kali mereka merasa tidak percaya diri dengan kondisi yang dihadapi.
"Pengaruh media sosial juga berperan besar. Remaja sering merasa dibanding-bandingkan dengan teman sebayanya yang dianggap lebih sukses. Masalah percintaan, pencarian jati diri, relasi yang kurang harmonis dengan orang tua, hingga korban bullying yang tak tertangani dengan baik, semuanya bisa mendorong remaja melakukan langkah yang tidak diinginkan,” katanya.
Untuk mencegah hal tersebut, ia menganjurkan keluarga utamanya orang tua ikut berperan secara aktif.
Baca Juga: Bali Masih Rentan Kasus Ulah Pati, Ini Kata Psikolog Soal Penyebabnya
Orang tua sebaiknya rutin membangun komunikasi mendalam atau deep talk dengan anak-anak. Apalagi saat mereka menginjak usia remaja.
Lebih lanjut Nena mengatakan, dirinya pernah menemukan kasus seorang remaja yang memiliki kecenderungan menyakiti diri sendiri. Setelah melakukan penelusuran, ternyata remaja tersebut bergabung dengan kelompok yang tidak patut.
“Saat saya cek handphone-nya, ternyata dia tergabung dalam grup WhatsApp bernama 'Bundir'. Grup berisi percakapan mengarah pada ajakan ulah pati," ungkapnya.
Ia menegaskan, keterlibatan aktif orang tua dan guru dalam membuka ruang dialog dengan anak-anak menjadi kunci penting pencegahan.
Nena juga mengingatkan pentingnya perhatian pemerintah terhadap kesehatan mental masyarakat.
Ia mengusulkan agar setiap puskesmas di Bali memiliki minimal satu tenaga kesehatan jiwa, baik itu konselor atau psikolog. Sehingga bisa melakukan deteksi dini masalah mental di masyarakat
Di sektor pendidikan, ia mendorong agar guru Bimbingan Konseling (BK) diberikan pelatihan pencegahan masalah mental.
"Guru BK bisa menjadi sosok yang dirasakan nyaman untuk tempat curhat, bukan sekadar menegur soal rambut panjang atau seragam sekolah," katanya.
Sementara itu Ketua Komisi Perlindungan Anak Daerah (KPAD) Bali, Ni Luh Gede Yastini, menyoroti bullying di lingkungan sekolah. Dia meyakini bullying sebagai salah satu faktor pemicu remaja melakukan ulah pati.
"Setiap sekolah wajib menyusun program pencegahan kekerasan dengan melibatkan seluruh warga sekolah, termasuk siswa, guru, tenaga kependidikan, dan orang tua," tegas Yastini.
Ia juga menambahkan bahwa sekolah harus membentuk Tim Pencegahan dan Penanganan Kekerasan (TPPK) di tiap satuan pendidikan. Sementara Dinas Pendidikan Kabupaten/Kota serta Provinsi membentuk Satuan Tugas di tingkatnya masing-masing.
"Yang tidak kalah penting, guru harus memahami bahwa bullying adalah tindakan salah. Tidak bisa dianggap lumrah atau sekedar lelucon. Korban harus mendapat pemulihan agar kembali beraktivitas tanpa rasa takut, dan pelaku harus dikonseling agar menyadari kesalahannya dan tidak mengulanginya," tandasnya. (*)
Untuk mendapatkan berita-berita terkini RadarBuleleng.id, silahkan bergabung di WhatsApp Channel "Radar Buleleng" dengan klik link berikut ini: Join WhatsApp Channel Radar Buleleng.
Editor : Eka Prasetya