Bali Birokrasi Ekonomi Bisnis Entertainment Hukum Kriminal Kesehatan Kuliner Nasional Nusantara Olahraga Otomotif Pariwisata Pendidikan Politik Sosial Budaya Update Buleleng

Kisah Nelayan di Bali, Temukan Jenazah Korban KMP Tunu Pratama Jaya

Muhammad Basir • Jumat, 11 Juli 2025 | 17:21 WIB

 

BANTU EVAKUASI: Yuzril Hakim (kiri) dan ayahnya Muhammad Fadjri (kanan) saat ditemui di Desa Perancak. Kedua nelayan itu membantu proses evakuasi jenazah yang ditemukan mengapung di perairan Jembrana.
BANTU EVAKUASI: Yuzril Hakim (kiri) dan ayahnya Muhammad Fadjri (kanan) saat ditemui di Desa Perancak. Kedua nelayan itu membantu proses evakuasi jenazah yang ditemukan mengapung di perairan Jembrana.

RadarBuleleng.id - Muhammad Fadjri, 60, tak pernah menyangka bahwa perjalanan memancing bersama putranya, Yuzril Hakim, 22, pada Kamis (10/7/2025) justru berujung pada penemuan jenazah manusia. 

Saat keduanya melaut di perairan selatan Desa Perancak, Kabupaten Jembrana, Bali, mereka menemukan tubuh mengapung yang diduga korban tenggelamnya KMP Tunu Pratama Jaya.

Meski hanya berhasil memancing 10 ekor ikan tongkol, Fadjri dan anaknya tetap memutuskan untuk mengevakuasi jenazah ke daratan. 

Tubuh tersebut mereka bawa ke pesisir Pantai Pebuahan, Desa Banyubiru, Kecamatan Negara, tak jauh dari tempat tinggal mereka.

"Kasihan kalau dibiarkan begitu saja di laut. Itu manusia, pasti keluarganya sedang mencari," ujar Fadjri.

Ditemui di rumahnya, Fadjri menceritakan kronologi penemuan tersebut. Pagi itu, sekitar pukul 05.00 WITA usai salat subuh, ia dan anaknya berangkat dari Pantai Pebuahan menggunakan perahu kecil ke arah timur. 

Baca Juga: “Mani Mulih”, Mimpi Sang Istri sebelum Jenazah Korban KMP Tunu Pratama Jaya Ditemukan

Sekitar pukul 07.30 WITA, mereka melihat sekumpulan burung laut berputar-putar di satu titik. Bau menyengat yang tercium dari jarak 20 meter menguatkan dugaan bahwa yang terapung adalah jasad manusia.

Beberapa nelayan lain yang turut melihat keberadaan jenazah ragu mengevakuasi karena kondisi tubuh sudah membusuk. 

Namun, Fadjri dan anaknya justru bertekad membawa jenazah ke darat meski harus melawan arus kuat dan gelombang tinggi selama hampir dua jam.

"Yang lain takut karena baunya menyengat dan tubuh sudah rusak. Tapi kami sepakat tetap bantu bawa ke darat," imbuhnya.

Jenazah yang ditemukan mengenakan celana jeans biru, baju batik merah, sepatu, dan jam tangan. Kondisi kepala hanya tersisa sebagian daging, perut tampak membesar, tangan dan kaki masih utuh namun tanpa jari. 

"Di saku belakang celana sepertinya ada dompet, tapi sudah tidak bisa diambil," katanya.

Fadjri menggunakan jaring untuk mengangkat jenazah ke atas perahu. Jenazah kemudian dibungkus mantel plastik dan kain sarung, lalu dibawa ke daratan. 

Setibanya di Pantai Pebuahan pukul 09.00 WITA, mereka langsung melapor ke Posko SAR gabungan. 

Setelah jenazah diserahkan, mereka pun kembali ke rumah membawa 10 ekor ikan tongkol yang didapat.

“Tidak masalah tak dapat banyak ikan. Yang penting bisa bantu bawa jenazah ke darat,” tutur Fadjri.

Jenazah yang ditemukan ini menjadi korban kesembilan dari tragedi tenggelamnya KMP Tunu Pratama Jaya. Sebanyak delapan jenazah sebelumnya juga ditemukan nelayan dari Banjar Pebuahan dan dievakuasi ke Pantai Pebuahan.

Jenazah kemudian dibawa ke RSU Negara untuk identifikasi awal sebelum dirujuk ke RSUD Blambangan, Banyuwangi, untuk pemeriksaan lebih lanjut. 

"Proses identifikasi dipusatkan di Banyuwangi," kata Kepala BPBD Jembrana, I Putu Agus Artana Putra.

Hingga Kamis (10/7), dari total 65 orang yang berada di KMP Tunu Pratama Jaya, baru 44 orang ditemukan. Rinciannya, 30 selamat dan 15 meninggal dunia. Masih ada 21 orang yang belum ditemukan, termasuk seorang warga asal Jembrana.

Karena masih banyak korban belum teridentifikasi, BPBD Jembrana mengusulkan agar masa pencarian diperpanjang. "Kami sudah berkoordinasi dengan instansi terkait dan akan bersurat untuk memperpanjang operasi SAR," ujar Agus.

Ia menambahkan, sebagian besar korban ditemukan di wilayah perairan Jembrana, sehingga peluang pencarian di wilayah ini masih sangat memungkinkan.

Sementara itu, empat jenazah lainnya masih dalam proses identifikasi. Korban terakhir yang berhasil dikenali adalah Putu Mertayasa, warga Buleleng, yang ditemukan pada Rabu (9/7/2025) lalu oleh nelayan Banjar Pebuahan. (*)

 

Untuk mendapatkan berita-berita terkini RadarBuleleng.id, silahkan bergabung di WhatsApp Channel "Radar Buleleng" dengan klik link berikut ini: Join WhatsApp Channel Radar Buleleng.

Editor : Eka Prasetya
#korban #bali #burung #dompet #KMP Tunu Pratama Jaya #jembrana #perancak #jenazah #ikan