Bali Birokrasi Ekonomi Bisnis Entertainment Hukum Kriminal Kesehatan Kuliner Nasional Nusantara Olahraga Otomotif Pariwisata Pendidikan Politik Sosial Budaya Update Buleleng

Menteri PU Ungkap 4 Penyebab Banjir Besar Denpasar, Janji Anggaran Rp 8 Miliar untuk Perbaikan

Dhian Harnia Patrawati • Minggu, 21 September 2025 | 21:02 WIB

 

BERSIHKAN SAMPAH: Petugas kebersihan membersihkan sampah yang hanyut di Tukad Badung.
BERSIHKAN SAMPAH: Petugas kebersihan membersihkan sampah yang hanyut di Tukad Badung.

RadarBuleleng.id - Pemerintah akhirnya mengurai penyebab banjir besar yang melanda Kota Denpasar pada 10 September 2025 lalu. 

Menteri Pekerjaan Umum (PU), Dody Hanggodo menyebut ada empat faktor utama yang memicu bencana tersebut.

Pertama, curah hujan ekstrem mencapai 245,5 mm sehingga debit air Tukad Badung melonjak hingga 85,85 meter kubik per detik. 

Kedua, pasang laut maksimal 1,6 meter pada 9–10 September membuat aliran sungai tersendat menuju laut.

Ketiga, tumpukan sampah masyarakat yang dibuang ke Tukad Badung mencapai 60 ton per hari. Sampah inilah yang menyumbat aliran air menuju Waduk Muara Nusa Dua. 

“Ini masalah besar,” ujar Dody saat meninjau Waduk Muara Nusa Dua, Badung, Bali.

Baca Juga: Tambang Ilegal jadi Sorotan Presiden Prabowo. Di Karangasem Bali, Ternyata Ada Puluhan Tambang Galian C Tak Berizin

Keempat, sedimentasi tinggi di waduk yang menjadi muara Tukad Badung. 

Menurut Dody, kondisi air waduk kini sudah sangat tinggi, menandakan penumpukan sedimen perlu segera dikeruk.

“Waduk Muara Nusa Dua terakhir kali dinormalisasi tahun 2019. Saat itu, sekitar 245 ribu ton sedimen berhasil diangkat, setara dengan 25 ribu truk Fuso,” jelasnya.

Dody mengingatkan, jika intensitas hujan ekstrem kembali terjadi, potensi banjir besar sulit dihindari. 

Karena itu, pemerintah berencana mengucurkan anggaran khusus untuk pengerukan sedimentasi. 

Prosesnya diperkirakan memakan waktu setahun karena volume sedimen sangat besar.

Namun, ada kendala baru, yakni lokasi pembuangan. Sedimen berupa pasir tidak bisa dibuang ke Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Suwung. 

“Harus ada titik tertentu sebagai lokasi pembuangan selama setahun penuh agar proses pengerukan tidak terganggu,” tegasnya. 

Ia berencana berkoordinasi dengan Gubernur Bali Wayan Koster agar penanganan tidak menimbulkan masalah lingkungan baru.

Selain soal waduk, Kementerian PU juga menyiapkan dana tanggap darurat Rp 8 miliar untuk memperbaiki 15 titik infrastruktur nasional yang rusak akibat banjir di Bali. 

Titik-titik itu tersebar di Denpasar, Badung, Gianyar, Klungkung, dan Tabanan.

“Skemanya dana darurat, jadi tidak akan mengurangi anggaran pembangunan untuk Bali yang sudah kami alokasikan sebesar Rp 1,5 triliun tahun ini,” jelas Dody.

Dari 15 titik terdampak, lima titik rusak infrastruktur, tujuh titik longsor, dan lima titik lainnya akibat banjir. 

Sejauh ini, 14 titik sudah tertangani, termasuk perbaikan Underpass Simpang Dewa Ruci (Badung) dan jalan jebol di Jalan Kargo (Denpasar).

Satu titik masih dalam proses, yakni kerusakan Jembatan Muntur di Gianyar. 

“Kami targetkan perbaikan jembatan ini bisa selesai dalam dua minggu kedepan,” tandasnya. (*)

 

Untuk mendapatkan berita-berita terkini RadarBuleleng.id, silahkan bergabung di WhatsApp Channel "Radar Buleleng" dengan klik link berikut ini: Join WhatsApp Channel Radar Buleleng.

Editor : Eka Prasetya
#bali #waduk #sungai #air #Pasang #laut #denpasar #tukad badung #hujan #PU #Muara #Nusa Dua #banjir #sedimentasi #pekerjaan umum #Dody Hanggodo