RadarBuleleng.id - Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memperingatkan adanya potensi cuaca ekstrem di awal November 2025.
Fenomena atmosfer yang aktif secara bersamaan diperkirakan memicu hujan lebat disertai angin kencang dan petir di sedikitnya 20 provinsi di Indonesia dalam periode 31 Oktober hingga 3 November 2025.
Menurut keterangan resmi BMKG, hujan dengan intensitas sedang hingga sangat lebat berpotensi terjadi di wilayah Sumatra Selatan, Banten, DKI Jakarta, Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, Bali, Nusa Tenggara Barat, Nusa Tenggara Timur, Kalimantan Tengah, Kalimantan Timur, Sulawesi Selatan, Sulawesi Tengah, Sulawesi Tenggara, Maluku, Maluku Utara, Papua Barat, dan Papua Pegunungan.
Beberapa daerah bahkan berstatus siaga menghadapi potensi genangan dan banjir lokal akibat hujan ekstrem.
Deputi Bidang Meteorologi BMKG, Guswanto, menjelaskan bahwa cuaca ekstrem kali ini dipicu oleh sejumlah gangguan atmosfer yang terjadi secara bersamaan.
“Aktivitas Madden-Julian Oscillation (MJO), gelombang Rossby ekuator, dan sirkulasi siklonik di beberapa wilayah menjadi faktor utama pembentukan awan hujan konvektif yang cukup masif,” ujarnya.
Selain itu, kondisi Dipole Mode negatif di Samudra Hindia turut menyuplai uap air dalam jumlah besar ke wilayah barat Indonesia, memperkuat potensi hujan.
Kombinasi fenomena tersebut membuat langit Indonesia cenderung lebih gelap, lembap, dan tidak stabil secara termal.
BMKG juga mencatat, beberapa wilayah telah mengalami curah hujan ekstrem dalam beberapa hari terakhir, seperti Samarinda, Tolitoli, dan Boven Digoel dengan intensitas lebih dari 120 milimeter per hari.
Sementara itu, suhu panas ekstrem di beberapa daerah mulai menurun, menandai transisi menuju puncak musim hujan yang diperkirakan terjadi antara November hingga Januari mendatang.
Masyarakat diimbau untuk mewaspadai potensi bencana hidrometeorologis, seperti banjir, tanah longsor, dan pohon tumbang.
“Kami mengingatkan agar masyarakat tidak berada di area terbuka saat hujan disertai petir serta memastikan saluran air tidak tersumbat,” kata Guswanto menambahkan.
BMKG meminta pemerintah daerah dan masyarakat di wilayah terdampak untuk terus memantau pembaruan informasi cuaca melalui kanal resmi BMKG, baik situs web maupun aplikasi mobile.
Koordinasi antarinstansi di tingkat daerah juga diharapkan diperkuat untuk mitigasi dini terhadap dampak cuaca ekstrem.
Cuaca ekstrem ini diperkirakan berlangsung hingga 3 November 2025, dengan intensitas hujan tertinggi terjadi pada sore hingga malam hari di sebagian besar wilayah Indonesia bagian barat dan tengah.
Dengan kondisi atmosfer yang masih labil, BMKG menegaskan pentingnya kewaspadaan masyarakat terhadap perubahan cuaca mendadak yang berpotensi mengganggu aktivitas harian. (*)
Untuk mendapatkan berita-berita terkini RadarBuleleng.id, silahkan bergabung di WhatsApp Channel "Radar Buleleng" dengan klik link berikut ini: Join WhatsApp Channel Radar Buleleng.
Editor : Eka Prasetya