SINGARAJA - Sebagai wujud rasa syukur atas karunia kesuburan tanah dan melimpahnya hasil panen yang diwariskan leluhur, Desa Sudaji, Kecamatan Sawan, Kabupaten Buleleng menggelar tradisi Ngusaba Bukakak pada Senin (22/7) malam.
Ritual sakral ini dilakukan pada purnama kedasa, yang dipusatkan di Pura Desa Sudaji, Pura Mas Pahit, dan Pura Taman Sari.
Tradisi ini telah dilakukan secara turun temurun, yang dimulai sejak pukul 18.00 Wita, sementara mengusung bukakak dengan dua ekor babi baru dimulai pukul 20.00 Wita.
Tradisi ini pun menjadi hiburan tersendiri bagi masyarakat. Dua bukakak yang berisi babi kemudian diusung oleh puluhan krama (warga) dengan berjalan cepat.
Sorak sorai juga mewarnai jalannya tradisi ini. Tak jarang ada gesekan antara pengusung bukakak dan warga.
Arak-arakan Bukakak ini juga diiringi dengan alunan gamelan dan daun kelapa kering yang dibakar. Suguhan ini menghadirkan suasana yang semarak.
Kelian Subak Dukuh Gede, Made Darsana menyebutkan bila Ngusaba Bukakak di Desa Sudaji telah berlangsung sejak tahun 1959.
Ini pun menjadi kepercayaan krama, sehingga wajib dilaksanakan setiap tahunnya.
”Pernah tidak dilakukan tradisi ini. Akibatnya hasil pertanian di desa kami mengalami penurunan hingga gagal panen,” katanya.
Bukakak merupakan dua ekor babi (celeng) berukuran berbeda yang diikat dengan bambu.
Babi yang lebih besar disebut Bukakak Ageng (besar), sedangkan yang lebih kecil dinamakan Bukakak Alit (kecil).
Keduanya diarak dari Pura Desa Sudaji menuju Pura Mas Pait Bedugul Subak Dukuh Gede, yang merupakan tempat persembahan Bukakak.
Menariknya, pengusung Bukakak Ageng dan Alit mengenakan tanda pengenal yang berbeda.
Untuk pengusung Bukakak Ageng, mereka memakai ikat berwarna hijau di leher yang melambangkan dewi kesuburan.
Sementara pengusung Bukakak Alit mengenakan ikat berwarna merah yang melambangkan Dewa Brahma.
Made Darsana mengungkapkan bila tradisi ini juga sebagai bentuk mempererat tali persaudaraan antar warga desa. Bahkan seluruh warga bahu membahu dalam menyiapkannya.
”Ini merupakan tradisi yang sangat penting bagi kami. Kami juga bersyukur dapat terus melestarikannya hingga saat ini,” pungkasnya. ***
Editor : Donny Tabelak