SINGARAJA, RadarBuleleng.id - Kepala Dinas Kebudayaan Buleleng, Nyoman Wisandika, memuji keberanian Luh Widia Putri, penari joged bumbung asal Buleleng yang viral di media sosial.
Aksi Luh Widia viral karena berani menolak aksi pemberian saweran yang tidak pantas, saat Luh Widia menari joged.
Pengibing yang mengiringi penari joged diketahui memberikan saweran dengan cara yang tidak pantas yang membuat para penikmat joged bumbung kecewa.
Kepala Dinas Kebudayaan Buleleng, Nyoman Wisandika mengatakan, aksi memberikan saweran dengan cara yang tidak pantas itu menjadi perhatian pemerintah.
Menurutnya Dinas Kebudayaan Buleleng telah melakukan penelusuran terkait dengan peristiwa tersebut.
Wisandika menjelaskan, dalam pihaknya menemukan bahwa penari tersebut tengah menari dengan sekaa joged dalam acara nelung bulanin.
Sesuai dengan kesepakatan, sekaa joged dan penari joged akan menarikan joged sesuai dengan pakem.
Wisandika mengatakan, selama ini pihaknya telah berusaha menempatkan kesenian joged bumbung pada tempat yang terhormat.
Caranya, meminta agar sekaa dan penari joged bumbung menarikan joged sesuai dengan pakemnya.
Sayangnya upaya tersebut dirusak oleh ulah oknum pengibing yang tidak menghormati kesenian dan budaya Bali.
“Penari sudah bagus, tapi pengibing-nya tidak sopan. Kasihan juga penari. Kalau penarinya saat itu mau, pasti lebih heboh lagi. Saya apresiasi penari itu sudah berani menolak,” kata Wisandika, Jumat (4/10/2024).
Menurut Wisandika, saat dirinya mencermati video yang beredar, aksi pemberian saweran itu memang tidak pantas. Bahkan jauh dari pakem.
Kepala Dinas Kebudayaan Buleleng, Nyoman Wisandika bersyukur bila Luh Widia Putri, penari joged yang menari saat itu paham betul dengan angsel tangkis joged, sehingga bisa menolak perlakuan yang tidak pantas.
Hanya saja, Wisandika masih merasa kecewa dengan perlakuan para pengibing yang terkesan merendahkan para penari joged yang telah menari sesuai dengan pakem.
“Sekaa sudah sering kami bina, demikian juga penari. Ternyata masalah ini ada di pengibing,” ujarnya.
Lebih lanjut Wisandika mengatakan, pihaknya sudah berusaha menempatkan kesenian joged bumbung pada tempat yang terhormat.
Caranya dengan mengundang para penggiat sekaa joged dan penari joged. Dalam pertemuan itu, pihaknya wanti-wanti agar sekaa dan penari membawakan kesenian sesuai dengan pakem.
Upaya itu dalam kurun waktu beberapa bulan terakhir telah membuahkan hasil. Di Buleleng tidak ada lagi penari joged yang membawakan joged jaruh.
Sayangnya pihak pengibing maupun penonton justru melakukan hal yang tidak pantas. Mulai dari mencium penari joged, hingga memberikan saweran dengan cara yang tidak pantas.
“Kami sudah berusaha sosialisasi agar joged sesuai pakem. Mereka sudah mau nurut. Tapi masyarakat yang ngupah justru melakukan hal yang tidak pantas,” katanya.
Terkait hal tersebut, Wisandika berencana melakukan pertemuan kembali dengan kelian desa adat di seluruh Kabupaten Buleleng
Tujuannya agar kesenian joged memang benar-benar dipentaskan sesuai dengan pakem yang menghibur.
“Ini bukan hanya soal kesadaran dari sekaa dan penari, namun juga kesadaran dari yang ngibing. Sekaa dan penari sudah sesuai pakem, tapi pengibing yang jaruh, ini akan jadi masalah juga,” demikian Wisandika. (*)
Untuk mendapatkan berita-berita terkini RadarBuleleng.id, silahkan bergabung di WhatsApp Channel "Radar Buleleng" dengan klik link berikut ini: Join WhatsApp Channel Radar Buleleng.
Editor : Eka Prasetya