Bali Birokrasi Ekonomi Bisnis Entertainment Hukum Kriminal Kesehatan Kuliner Nasional Nusantara Olahraga Otomotif Pariwisata Pendidikan Politik Sosial Budaya Update Buleleng

Banjar Adat Paketan Buleleng, Bangkitkan Kembali Tari Sakral 'Sang Hyang Memedi'

Eka Prasetya • Kamis, 27 Maret 2025 | 21:51 WIB

 

SIAPKAN FRAGMEN TARI: Sekaa Teruna Hita Mandala Banjar Paketan akan menampilkan tari sakral Sang Hyang Memedi pada festival ogoh-ogoh.
SIAPKAN FRAGMEN TARI: Sekaa Teruna Hita Mandala Banjar Paketan akan menampilkan tari sakral Sang Hyang Memedi pada festival ogoh-ogoh.

SINGARAJA, RadarBuleleng.id - Menjelang Hari Suci Nyepi Tahun Baru Caka 1947, Sekaa Truna Hita Mandala Banjar Paketan, Buleleng, mengambil langkah berani dalam pelestarian budaya. 

Melalui partisipasinya dalam Lomba Ogoh-Ogoh yang digelar pada Hari Pengerupukan, 28 Maret 2025 di Catus Pata Singaraja, mereka tak hanya mengusung ogoh-ogoh, tapi juga menghidupkan kembali tarian sakral yang nyaris terlupakan: Sang Hyang Memedi.

Tarian ini bukan sekadar bagian dari pertunjukan. Sang Hyang Memedi adalah warisan leluhur Banjar Paketan yang sudah lama menghilang dari praktik budaya masyarakat. 

Dalam kompetisi nanti, Sekaa Teruna akan menyuguhkan fragmen tari ini sebagai bentuk penghormatan dan upaya rekonstruksi budaya yang nyaris punah.

Gede Arya Septiawan, tokoh pemuda sekaligus inisiator gagasan ini, menceritakan bahwa ide mengangkat Sang Hyang Memedi berawal dari diskusi kecil antar anggota Sekaa Teruna. 

Awalnya, mereka hendak mengangkat ogoh-ogoh bertema Kala Samar. Namun saat menggali referensi lebih dalam, mereka menemukan catatan tentang Tari Sang Hyang Memedi yang dulunya pernah eksis di kampung halaman mereka.

“Setelah membaca buku Beberapa Tari Upacara dalam Masyarakat Bali terbitan Direktorat Jenderal Kebudayaan (1981/1982), kami menemukan bahwa tarian ini dulunya hidup di Banjar Paketan. Sayangnya, jejaknya sudah hilang. Dari sanalah semangat kami tumbuh untuk membangkitkannya kembali,” ujar Arya.

Tarian ini dikenal dengan keunikannya—penari mengenakan kostum dari daun merang atau jerami, menyerupai sosok memedi, makhluk halus yang dipercaya menghuni semak belukar. Prosesi tarian dilakukan dalam kondisi trance, setelah diasapi dengan kemenyan yang dibakar di atas pasepan (piring tanah liat). 

Tujuannya pun sakral: nyomya Bhuta Kala, atau menyelaraskan hubungan antara manusia dan alam serta menolak bala.

Meski pernah dipentaskan kembali dalam Pesta Kesenian Bali (PKB) tahun 2015 oleh Sanggar Catur Suara Rupa, kala itu dokumentasi dan referensi yang tersedia sangat terbatas. 

Kali ini, upaya rekonstruksi dilakukan lebih komprehensif. Tim Banjar Paketan menelusuri sumber-sumber sejarah di Museum Gedong Kirtya, hingga mencari informasi lisan dari desa-desa yang masih mempertahankan tradisi tari Sang Hyang seperti di Pemaron dan Tukadmungga.

“Kami bahkan sempat menghadapi keraguan dari beberapa tetua desa yang merasa tarian ini tidak pernah ada di sini. Tapi sumber-sumber sejarah yang kami temukan membuktikan sebaliknya,” lanjut Arya.

Langkah Sekaa Teruna ini pun mendapat dukungan penuh dari Klian Desa Adat Buleleng, Nyoman Sutrisna, yang menyambut baik inisiatif generasi muda dalam menghidupkan kembali warisan budaya yang telah lama tertidur.

“Lomba ogoh-ogoh ini bukan sekadar ajang kreativitas, tapi juga momentum untuk memperkenalkan kembali tarian leluhur kami. Semoga ini jadi awal bagi kebangkitan Sang Hyang Memedi di tengah masyarakat,” pungkas Arya Septiawan. (*)

 

Untuk mendapatkan berita-berita terkini RadarBuleleng.id, silahkan bergabung di WhatsApp Channel "Radar Buleleng" dengan klik link berikut ini: Join WhatsApp Channel Radar Buleleng.

Editor : Eka Prasetya
#ogoh-ogoh #pesta kesenian bali #sekaa truna #pkb #nyepi #budaya #buleleng