BANJAR, RadarBuleleng.id - Di sebuah sudut tenang Desa Tigawasa, Kecamatan Banjar, Kabupaten Buleleng, Bali, sepasang tangan lincah terus bergerak menganyam bilah-bilah bambu.
Di sanalah, Komang Erni, 45, duduk bersila di teras rumah sederhana miliknya. Memelihara warisan leluhur sekaligus menganyam asa keluarga.
Sokasi dikenal sebagai wadah tradisional Bali untuk membawa sesajen atau kebutuhan rumah tangga. Tapi bagi Komang Erni, sokasi adalah tumpuan harapan.
Dari keterampilan menganyam bilah-bilah bambu yang diwarisi sejak kanak-kanak, ia membantu menopang ekonomi keluarga. Menyekolahkan lima anaknya, hingga mengantar salah satu dari mereka lulus Diploma 1 dan kini bekerja di sektor pariwisata.
“Saya sudah belajar menganyam sejak kecil, dari ibu saya. Dulu sebagai hiburan, sekarang jadi tumpuan hidup,” tuturnya saat ditemui di rumahnya beberapa waktu lalu.
Sembari bercerita, tangannya tak berhenti bergerak. Dia tahu persis anyaman harus dimulai dari mana dan akan berakhir di mana.
Tak hanya mengandalkan anyaman, Erni juga membuka warung sembako kecil di depan rumah. Semua itu dilakukannya demi membantu suami mencukupi kebutuhan keluarga.
Mengurus lima anak dengan usia yang beragam, dari balita hingga lulusan D1, bukan perkara mudah. Tapi berkat sokasi, ekonomi keluarganya tetap bisa berputar.
“Kalau tidak karena sokasi ini, mungkin saya tidak bisa sekolahkan anak-anak,” ujarnya.
Desa Tigawasa sejak lama dikenal sebagai sentra kerajinan bambu. Sokasi menjadi sumber penghasilan tambahan bagi banyak ibu rumah tangga.
Proses pembuatannya yang bisa dikerjakan dari rumah, membuat para perempuan di desa ini saling terhubung. Mereka saling berbagi bahan, cerita, dan tenaga. Terutama ketika pesanan datang dalam jumlah besar.
Menurut Erni, permintaan sokasi masih cukup tinggi. Terutama menjelang hari raya atau upacara adat. Meski bahan baku kadang sulit dicari dan persaingan semakin ketat, ia tak pernah kehilangan semangat.
“Selama tangan ini masih bisa bergerak, saya akan terus menganyam,” ucapnya mantap.
Kisah Komang Erni adalah potret ketangguhan perempuan desa di Bali Utara. Lewat sokasi, ia tak hanya mempertahankan budaya, tetapi juga membuktikan bahwa ketekunan dan kerja keras mampu mengubah jalan hidup. (Penulis: Ni Putu Ayu Prasetya)
Untuk mendapatkan berita-berita terkini RadarBuleleng.id, silahkan bergabung di WhatsApp Channel "Radar Buleleng" dengan klik link berikut ini: Join WhatsApp Channel Radar Buleleng.
Editor : Eka Prasetya