Bali Birokrasi Ekonomi Bisnis Entertainment Hukum Kriminal Kesehatan Kuliner Nasional Nusantara Olahraga Otomotif Pariwisata Pendidikan Politik Sosial Budaya Update Buleleng

Hidupkan Warisan Lontar Bali, Gedong Kirtya Gelar Pameran Rempah

Francelino Junior • Senin, 10 November 2025 | 23:48 WIB

 

PAMERAN: Suasana pameran rempah di Museum Soenda Ketjil kawasan Eks Pelabuhan Buleleng.
PAMERAN: Suasana pameran rempah di Museum Soenda Ketjil kawasan Eks Pelabuhan Buleleng.

SINGARAJA, RadarBuleleng.id – Rempah-rempah yang selama ini dikenal sebagai bumbu dapur, ternyata menyimpan filosofi dan nilai budaya yang dalam. 

Hal itulah yang diangkat dalam Pameran Rempah di Museum Soenda Ketjil, kawasan eks Pelabuhan Buleleng. 

Pameran yang berlangsung selama sepekan, 10–16 November itu menjadi wadah untuk mengenalkan kekayaan pengetahuan tradisional yang tersimpan dalam lontar-lontar di Gedong Kirtya.

Kegiatan tersebut digelar oleh UPTD Gedong Kirtya, Dinas Kebudayaan (Disbud) Buleleng, dengan mengusung tema “Rempah ring Urip lan Budaya Bali” atau rempah dalam kehidupan dan budaya masyarakat Bali.

Berbagai jenis rempah yang selama ini tertulis dalam lontar, dipamerkan dengan tampilan artistik dan edukatif. 

Mulai dari rempah untuk bumbu masakan tradisional seperti base genep, base bawang jahe, hingga base suna cekuh

Adapula rempah untuk upacara keagamaan seperti daksina linggih, pasepan, byakaon, dapetan, dan segehan

Selanjutnya ada rempah untuk karya seni seperti mengkudu, kayu secang, kunyit, hingga daun pepaya; serta rempah untuk pengobatan tradisional, seperti ramuan untuk perawatan bayi, obat masuk angin, hingga lulur alami.

Selain berdasarkan fungsi, rempah juga diklasifikasikan berdasarkan bentuknya. Ada yang berasal dari batang seperti sereh dan kayu manis; rimpang seperti jahe, kunyit, kencur, dan temulawak; biji dan buah seperti pala, kemiri, ketumbar, jinten, hingga andaliman; serta daun seperti daun salam, pandan, nilam, dan jeruk.

“Isi pameran ini bersumber dari lontar-lontar di Gedong Kirtya. Tahun ini kami angkat tema rempah karena menyentuh berbagai aspek kehidupan masyarakat Bali. Kami ingin isi lontar bisa divisualkan agar lebih mudah dipahami masyarakat,” jelas Kepala Dinas Kebudayaan Buleleng, I Nyoman Wisandika.

Wisandika menambahkan, rempah telah menjadi bagian penting dalam sejarah Nusantara. 

Dahulu, rempah menjadi alat barter, hingga kemudian menarik minat bangsa India, Arab, dan Tiongkok datang ke Indonesia. 

Di abad ke-15, bangsa Eropa pun berlomba-lomba menguasai jalur perdagangan rempah hingga berujung pada masa kolonial.

Khusus di Bali, meski bukan penghasil utama rempah, Pelabuhan Buleleng sempat menjadi jalur penting perdagangan pada abad ke-17 hingga ke-19. 

Rempah seperti pala, cengkeh, kapulaga, dan kayu manis menjadi komoditas unggulan. 

Karena itu, penggunaannya di Bali tak hanya untuk masakan, tapi juga erat dengan adat, seni, dan keagamaan. 

Sejumlah lontar seperti Dharma Caruban, Plutuk, dan Usada mencatat peran penting rempah dalam kehidupan masyarakat.

Pameran tersebut gratis dan terbuka untuk umum. Pengunjung bisa datang pagi pukul 08.00–13.00 WITA dan malam pukul 17.00–22.00 WITA untuk menyaksikan pameran. (*)

 

Untuk mendapatkan berita-berita terkini RadarBuleleng.id, silahkan bergabung di WhatsApp Channel "Radar Buleleng" dengan klik link berikut ini: Join WhatsApp Channel Radar Buleleng.

Editor : Eka Prasetya
#bali #pengobatan #base #suna cekuh #lulur #bumbu dapur #rempah #Daksina linggih #ramuan #masakan #gedong kirtya #pelabuhan #pameran #Base genep #budaya #disbud #barter #buleleng #museum soenda ketjil