SINGARAJA-Beberapa video menjadi perbincangan di Media Sosial (medsos), karena menampilkan ogoh-ogoh yang tampak "hidup" di Desa Bebetin, Kecamatan Sawan, Kabupaten Buleleng pada Minggu (10/3) sore saat pengerupukan Hari Suci Nyepi 1946/2024.
Dalam video yang beredar di medsos, ogoh-ogoh "hidup" yang diperankan salah satu warga, dirias layaknya tuyul dengan menggunakan pakaian dalam atasan wanita dan popok. Ogoh-ogoh itu juga memegang sanggah cucuk.
Warga yang berperan sebagai ogoh-ogoh itu juga sesekali tampak bergoyang, juga sesekali duduk. Sebagai ogoh-ogoh, ia diangkat sekitar enam orang warga.
Tetapi, video tersebut menuai kontroversi di jagat maya. Meski banyak yang merasa terhibur karena menganggap aksi ini sebagai hiburan semata, tetapi banyak juga masyarakat yang menghujat.
"Buduh nyampahan dewek pedidi kenkenang pang sing lecehange nani ngelecehang budayan nanine pedidi," komentar menohok akun Facebook (FB) Robed.
"Pedidi ngusakang budaya..... Mani nak len care kene uyut....," komentar kontra lain dari akun FB Ketut Suartana.
"Apakah di desa itu tidak ada tokoh intelektualnya atau pemimpin adat sehingga membiarkan hal-hal yang seperti ini?" tulis akun FB Deck Megatop berkomentar.
Terpisah, Perbekel Desa Bebetin, I Gede Susanta membenarkan bila peristiwa itu memang terjadi di wilayahnya. Susanta juga membenarkan bila orang-orang yang terlibat dalam hiburan itu terjadi di Desa Bebetin.
Ia mengatakan bila aksi itu merupakan spontanitas dari perkumpulan warga di Desa Bebetin yang disebut Serbu (Serdadu Buduh), saat pengerupukan Hari Suci Nyepi 1946.
Aksi kelompok masyarakat itu, lanjut Susanta, hanya sebagai pembuka dalam parade ogoh-ogoh di Desa Bebetin. Bukan bermaksud untuk melecehkan.
"Nike hanya sekedar hiburan pembuka, pentasnya pun hanya sebentar. Nike spontanitas beberapa warga yang tergabung dalam kelompok serdadu buduh," ujarnya dikonfirmasi pada Selasa (12/3) sore. ***
Editor : Donny Tabelak