Bali Birokrasi Ekonomi Bisnis Entertainment Hukum Kriminal Kesehatan Kuliner Nasional Nusantara Olahraga Otomotif Pariwisata Pendidikan Politik Sosial Budaya Update Buleleng

Melihat Al-quran Karya Keluarga Puri Buleleng di Masjid Agung Jami’ Singaraja, Ditulis Diatas Kertas yang Ternyata dari Italia

Francelino Junior • Selasa, 19 Maret 2024 | 17:32 WIB
Potret Al-quran karya A.A. Ngurah Ketut Jelantik Tjelagie. Ia merupakan salah satu anggota keluarga Puri Buleleng yang menjadi umat Islam.
Potret Al-quran karya A.A. Ngurah Ketut Jelantik Tjelagie. Ia merupakan salah satu anggota keluarga Puri Buleleng yang menjadi umat Islam.

SINGARAJA-Di Masjid Agung Jami’ Singaraja, tidak hanya cerita masjid serta ukirannya saja yang menarik, tetapi juga cerita mengenai adanya Al-quran karya salah satu anggota keluarga Puri Buleleng.

Al-quran itu merupakan karya Anak Agung (A.A.) Ngurah Ketut Jelantik Tjelagie.

Ia merupakan salah satu keluarga Puri Buleleng yang pada tahun 1880-an diungsikan ke wilayah Kampung Kajanan, karena adanya perang saudara di Buleleng.

Di sana, ia diangkat menjadi anak dan didik oleh Syekh Muhammad Yusuf Saleh hingga kemudian masuk agama Islam.

Dalam perjalanan kehidupan pendidikan spiritualnya, A.A. Ngurah Ketut Jelantik Tjelagie mendapatkan tugas akhir berupa menyalin Al-quran.

“Jadi bisa dibilang skripsinya saat menempuh pendidikan bersama Syekh Muhammad Yusuf Saleh itu menyalin ayat Al-quran dalam bentuk mushaf atau buku kitab,” ujar Muhammad Agil, Humas Masjid Agung Jami’ Singaraja.

Agil mengungkapkan bila penulisan Al-quran itu dimulai sekitar tahun 1814 dan disinyalir rampung sekitar tahun 1820. 

Pada bagian sampul, A.A. Ngurah Ketut Jelantik Tjelagie membuat bentuk patra timun sebagai bentuk bingkai judul.

Selain itu, pada surah pertama, A.A. Ngurah Ketut Jelantik Tjelagie membuat bingkai dengan warna tridatu, yakni merah, putih, dan hitam. Berbeda dengan lainnya yang berwarna hijau.

Uniknya, al-quran buatan A.A. Ngurah Ketut Jelantik Tjelagie ternyata ada yang kurang.

Dari 114 surah, ternyata hanya 113 surah yang tercatat. Yang hilang diketahui merupakan bagian nomor tiga dari belakang, yakni surah ke 112.

“Konon katanya, karena ayat tersebut pendek, ada empat ayat. Dan disebutkan itu surah yang paling pertama beliau hafal. Tetapi malah lupa beliau tulis,” ungkap Agil.

Dilanjutkan lagi, bila Al-quran karya A.A. Ngurah Ketut Jelantik Tjelagie ini sebenarnya berada di Masjid Kuna Keramat yang berada di Jalan Hasanudin No. 92 Kelurahan Kampung Kajanan, Kecamatan Buleleng.

Tetapi, pasca pembangunan Masjid Agung Jami’ Singaraja dan rampung menjadi masjid sentral pada tahun 1868, sejumlah barang-barang berharga kemudian dipindahkan ke masjid yang berada di Jalan Imam Bonjol No. 65 Kelurahan Kampung Kajanan.

Termasuk Al-quran karya anggota keluarga Puri Buleleng itu.

“Sebenarnya Al-quran serupa tidak hanya satu, karena murid Syekh Muhammad Yusuf Saleh banyak. Tetapi yg berkesan karena yang buat orang Bali,” terang Agil.

Terbaru, Agil menyebutkan pernah ada utusan dari Taman Mini Indonesia Indah (TMII) yang melakukan pengecekan mengenai kertas yang digunakan pada Al-quran karya A.A. Ngurah Ketut Jelantik Tjelagie.

Hasilnya? Kertas yang digunakan saat itu merupakan kertas buatan Italia.

Hal ini dapat dipastikan dengan sebuah stempel pada beberapa lembar kertas. Selain itu, hal serupa juga sama persis pada Al-quran tulis tangan yang ada di Demak juga Aceh.

“Awalnya kami mengira kertas tersebut dibuat dari kulit hewan. Tetapi setelah dipastikan dari TMII, ternyata kertas tersebut berasal dari Italia,” sambungnya.

Lalu bagaimana perawatan Al-quran hasil tulis tangan dari A.A. Ngurah Ketut Jelantik Tjelagie? Agil mengatakan hingga saat ini pihaknya melakukan perawatan secara tradisional saja.

Yakni menggunakan biji ketumbar yang ditaburkan dalam kotak kaca, yang merupakan tempat penyimpanan Al-quran tersebut.

Hal ini karena pihak Masjid Agung Jami’ Singaraja belum berkenan untuk melakukan perawatan secara modern, dengan menggunakan bahan-bahan kimia.

Selain itu, pihaknya tak sembarangan membuka tempat penyimpanan, agar Al-quran tidak mudah rusak.

“Perawatannya masih tradisional, karena kami belum berkenan untuk memakai bahan kimia. Sehingga pakai biji ketumbar saja agar tidak ada bakteri. Dua sampai tiga bulan baru diganti, kami cek juga setiap hari jumat,” pungkas Agil. ***

Editor : Donny Tabelak
#Masjid Agung Jami #puri buleleng #alquran