Bali Birokrasi Ekonomi Bisnis Entertainment Hukum Kriminal Kesehatan Kuliner Nasional Nusantara Olahraga Otomotif Pariwisata Pendidikan Politik Sosial Budaya Update Buleleng

Gunakan Medsos hingga Bentuk Kelompok Belajar, Pelestarian Bahasa Bali Utamakan Generasi Muda Buleleng

Francelino Junior • Rabu, 27 Maret 2024 | 04:05 WIB
Suasana penyuluhan bahasa Bali yang dilakukan tim penyuluh bahasa Bali Kabupaten Buleleng.
Suasana penyuluhan bahasa Bali yang dilakukan tim penyuluh bahasa Bali Kabupaten Buleleng.

SINGARAJA-Dalam melestarikan bahasa Bali, Penyuluh Bahasa Bali Kabupaten Buleleng mengutamakan generasi muda Buleleng sebagai sasaran mereka. Tentu ini dilakukan, mengingat derasnya gempuran teknologi di era digital saat ini. 

Ketua Penyuluh Bahasa Bali Kabupaten Buleleng, Putu Pertamayasa menjelaskan bila perubahan pergaulan, khususnya generasi muda Buleleng di daerah perkotaan, menyebabkan penggunaan bahasa Bali susah ditemui saat ini.

Meski begitu, Pertamayasa tidak menyalahkan masifnya perkembangan teknologi saat ini, apalagi teknologi digital memang menarik minat semua kalangan.

Meski sebagian konten yang disuguhkan rata-rata menggunakan bahasa Indonesia dan bahasa Inggris.

Sebagai penyuluh bahasa Bali, Pertamayasa mengatakan bila pihaknya juga menyasar media sosial dalam mensosialisasikan bahasa hingga nyurat aksara Bali.

“Kami sebagai penyuluh bahasa Bali juga tidak mau kalah dengan perkembangan teknologi. Melalui media sosial resmi milik kami, selalu diposting materi-materi berbahasa Bali,” terang Pertamayasa pada Selasa (26/3).

Pertamayasa mengungkapkan bila pihaknya mendapat respons positif masyarakat, atas postingan penyuluhan bahasa Bali.

Apalagi, mereka membuat kelompok belajar di masing-masing desa dan kelurahan, yang menarik minat orang tua untuk mengikutsertakan anak-anak mereka untuk mempelajari bahasa hingga nyurat aksara Bali.

Penjajagan juga dilakukan mulai dari Sekolah Dasar (SD) hingga ke tingkat Sekolah Menengah Atas/Sekolah Menengah Kejuruan (SMA/SMK). Serta bersinergi dengan tokoh adat dan pemerintah desa.

Pertamayasa mengungkapkan, tiap kelompok belajar di masing-masing desa dan kelurahan memiliki karakter yang berbeda-beda. Tentu ini menjadi tantangan tersendiri bagi tim penyuluh bahasa Bali di Buleleng.

“Masih banyak ditemui anak-anak yang malu atau takut datang ke lokasi kelompok belajar, meski jaraknya dekat. Namun dari pengataman, generasi muda lebih tertarik belajar nyurat aksara ketimbang belajar bahasa Bali halus,” ungkapnya.

Meski sudah melakukan upaya keras, Pertamayasa menambahkan, dukungan dari masyarakat sangat penting dan tentu dibutuhkan. Sehingga bahasa Bali tetap lestari. 

“Kita semua mempunyai tanggungjawab bersama melestarikan nyurat aksara dan bahasa Bali,” pungkas Ketua Penyuluh Bahasa Bali Kabupaten Buleleng itu. ***

Editor : Donny Tabelak
#penyuluh Bahasa Bali #medsos #kelompok belajar #generasi muda #bahasa bali