SINGARAJA-Kementerian Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Kemenko PMK) mengunjungi Kabupaten Buleleng.
Dalam kunjungannya, mereka menyoroti sejumlah aspek terkait pembangunan manusia.
Dalam kunjungan ke Buleleng, Kemenko PMK ditemani Dinas Kesehatan Provinsi Bali melakukan peninjauan pencegahan stunting serta meninjau Posyandu Tunas Mekar, Desa Gitgit, Kecamatan Sukasada, Kabupaten Buleleng.
Selain itu juga, Kemenko PMK dan Dinas Kesehatan Bali melakukan rapat koordinasi dengan Tim Percepatan Penurunan Stunting (TPPS) Kabupaten Buleleng.
Dalam kesempatan ini, Kemenko PMK memfokuskan sejumlah aspek dalam upaya pencegahan stunting. Yang tujuannya untuk menurunkan angka stunting di Buleleng.
Untuk diketahui, pada tahun 2021 prevalensi stunting mencapai angka 8,9 persen. Namun pada tahun 2022, melonjak menjadi 11 persen, tertinggi di Bali. Angka prevalensi stunting lalu turun menjadi 3,5 persen di tahun 2023.
Sedangkan di tahun 2023, berdasarkan data dari Satu Data Buleleng, jumlah keluarga yang berisiko stunting di Kabupaten Buleleng tercatat sebanyak 29.111.
Kecamatan Buleleng menjadi penyumbang terbesar dengan 4.619 keluarga, sedangkan Kecamatan Busungbiu menjadi paling sedikit meski angkanya 2.273 keluarga.
"Ada beberapa aspek yang harus dijadikan fokus, yaitu pencegahan pernikahan dini, memaksimalkan pola asuh anak dalam keluarga, dan pengoptimalan peran kader dalam usaha pencegahan dan penanganan stunting di Buleleng," jelas Sinurtina Sihombing, Ketua Tim Kemenko PMK.
Sinurtina melanjutkan, bila kunjungan ini juga untuk menguatkan sinergi dan kepedulian terhadap Tim Percepatan Penurunan Stunting di Buleleng. Sehingga masalah kesehatan dan kemanusiaan ini dapat terus dievaluasi dibantu dengan OPD terkait.
Menurutnya, angka penurunan stunting di Buleleng sudah cukup baik. Meski begitu, Pemerintah Kabupaten (pemkab) diminta untuk tetap komitmen, berkoordinasi, dan bekerjasama yang kuat antar pihak, baik pemerintah pusat, provinsi, dan kabupaten bahkan sampai ke desa.
"Harapannya, edukasi dan intervensi stunting dapat menjangkau dan lebih banyak dan tepat sasaran. Sehingga menghasilkan dampak signifikan dalam penurunan stunting di Buleleng dan Indonesia,” pungkasnya. ***
Editor : Donny Tabelak