Gong duwe milik sekaa tersebut memang dikenal magis, bahkan disebut sempat berbunyi sendiri.
Gong duwe ini pun disimpan atau distanakan di Pura Pengaruman Banjar Paketan.
Pura tersebut diketahui stana taksu kesenian, bahkan tiga pelinggih utamanya yakni Ida Bhatara Dewa Ayu Mas Mangelo melambangkan taksu penari, Ida Bhatara Mas Gumarincing lambang taksu gamelan, dan Ratu Bhatara Pasupati sebagai stana Ida Bhatara Ngurah Sesuhunan Penaung.
Untuk diketahui, gong duwe ini terdiri atas satu buah reong dan satu bilah gender. Dua benda suci dan keramat ini sudah diwariskan krama (warga) Banjar Adat Paketan sejak dahulu, yang diyakini sudah berumur puluhan bahkan ratusan tahun.
Bertepatan dengan Tumpek Landep, gong duwe itu pun diturunkan (tedun) dan disucikan.
Bersamaan dengan itu juga, Pura Pengaruman melaksanakan piodalan, dan dalam proses tersebut dilakukan prosesi ngewangsuh (memandikan) pusaka, yang salah satunya adalah gong duwe itu.
Kemudian, air yang digunakan untuk ngewangsuh itu dipercikkan ke seluruh krama.
Mengenai kemagisannya, Kelian Sekaa Gong Eka Wakya, Ketut Sunada mengatakan gong duwe itu memiliki kekuatan gaib yang memberikan vibrasi positif.
Setiap kali sekaa gong ini akan tampil, pihaknya selalu meminta izin dan memohon taksu di Pura Pengaruman.
Bahkan saat tampil pun, gong duwe itu harus dibawa ke tempat pementasan dan diletakkan pada bagian gamelan, walau tidak dimainkan. Kata Sunada, ini untuk memastikan pementasan berjalan dengan lancar.
”Taksu gong duwe ini hadir, ditandai dengan adanya hembusan angin lebih kencang di tempat pentas, atau ditandai dengan hujan turun,” ujarnya pada Sabtu (27/7).
Sunada menceritakan lagi, bila gong duwe ini sering kali berbunyi sendiri. Katanya, munculnya suara mistis itu menandakan sebuah peristiwa, baik positif maupun negatif yang akan terjadi.
Kisah mistis mengenai gong duwe dan sekaa gong ini terjadi pada tahun 2022 lalu.
Saat itu, Sekaa Gong Kebyar Remaja Eka Wakya tampil di Pesta Kesenian Bali (PKB). Pulang tampil di Arda Candra, mereka malah terlibat kecelakaan di daerah Tabanan.
Ternyata saat itu, mereka tidak menedunkan dan membawa gong duwe untuk tampil di PKB.
Beruntungnya dalam kecelakaan tersebut semua penumpang selamat, meski kendaraan yang ditumpangi mengalami kerusakan parah.
Mereka kemudian kembali ke Singaraja, namun gong duwe saat itu ditinggal sementara di lokasi kejadian.
Namun tak beberapa lama, warga sekitar menghubungi Sekaa Gong Kebyar Eka Wakya untuk segera mengambil kembali gong tersebut, lantaran kerap berbunyi sendiri.
”Gong duwe yang ada di pura ini juga bunyi sendiri. Kami akhirnya jemput kembali dan upacara ngulapin, guru piduka, akhirnya kembali normal,” lanjutnya menceritakan.
Sedangkan mengenai sejarahnya, Sekaa Gong Eka Wakya mengaku tidak mengetahui pasti waktu pembuatan Gong Duwe ini.
Meski begitu, ia mengatakan dalam sebuah penelitian yang dilakukan ISI Denpasar, bahwa sekaa gong ini beserta dengan gamelannya pernah tampil di Lombok pada tahun 1917.
Saat tampil itu, seluruh instrumen gamelan ditinggalkan di Lombok atas permintaan petinggi setempat. Hanya beberapa bagian saja yang kemudian dibawa kembali ke Buleleng.
Sebagai penguat lainnya juga, ada sebuah catatan dari penjelajah asal Netherland, yang mencatat pembangunan pura-pura di Buleleng, bahwa upacara melaspas Pura Pengaruman pasca perbaikan pada tahun 1906, sudah diiringi dengan gamelan. Gong duwe itu pun diyakini sudah ada.
“Gongnya berbentuk palegongan pewalasan, karena ada gangsa jongkok dan kantilan jongkok. Catatan itu tidak sengaja ditemukan saat ada wisatawan yang berkunjung,” terang Sunada.
Kemudian pada tahun 1926, gamelan yang tersisa dilengkapi dengan bagian-bagian lain hingga menjadi gamelan gong kebyar.
Set gamelan ini masih dipertahankan Sekaa Eka Wakya sebagai identitas gong legendaris, hingga saat ini. ***
Editor : Donny Tabelak