SINGARAJA, RadarBuleleng.id - Ada sesi yang unik dalam Singaraja Literary Festival (SLF) 2024. Para praktisi dan penekun lontar, akan membedah kekayaan rempah dalam Lontar Bali.
Manuskrip kuno itu dinilai menyimpan berbagai kekayaan rempah. Sehingga bisa digunakan untuk berbagai kepentingan.
Bedah potensi rempah itu akan berlangsung dalam sesi seminar bertajuk “Khazanah Rempah dalam Lontar Bali” yang digelar di Wantilan Desa Adat Buleleng, Singaraja.
Tercatat ada tiga orang praktisi yang akan ikut ambil bagian. Mereka adalah Ni Made Ari Dwijayanti, IGA Darma Putra, dan Putu Eka Guna Yasa.
Selain itu, budayawan Adi Wicaksono juga akan memberikan pandangan soal pentingnya rempah Indonesia dalam konteks budaya dan ekonomi dunia.
“Sesi khusus ini adalah sebuah perayaan khusus soal khazanah rempah di dalam lontar. Tujuannya adalah untuk memasyarakatkan pengetahuan rempah dalam konteks masa kini, khususnya di dunia pengobatan dan kuliner,” kata Direktur SLF, Kadek Sonia Piscayanti.
Menurut Sonia, rempah adalah kekayaan alam Indonesia yang sudah terkenal sejak berabad-abad.
Citra rempah yang hangat dan bisa dijadikan penyedap makanan menyebabkan bangsa Barat rela menjelajah lautan untuk mendapatkannya di bumi Nusantara.
Hingga kini, masyarakat Bali, masih melestarikan rempah dan memanfaatkannya untuk kepentingan ketahanan alam, ritual, ramuan pengobatan dan perawatan, termasuk untuk kuliner.
Rempah juga tercatat dalam berbagai manuskrip lontar. Seperti naskah Geguritan Megantaka, Tutur Dharma Caruban, dan Usadha Bali.
Dalam Geguritan Megantaka dijelaskan bahwa rempah berfungsi sebagai sarana minyak wangi atau parfum (gandha).
Sementara dalam naskah lontar Dharma Caruban menjelaskan berbagai bumbu masakan, terutama basa genep, untuk membuat olahan betutu, sate, timbungan, dan yang lainnya.
Selanjutnya, dalam konteks usadha atau obat-obatan, lontar Usadha Rare membahas pentingnya rempah sebagai sarana kesehatan anak.
Nantinya para peserta seminar diharapkan membuat esai sederhana, sehingga dapat menyebarkan khazanah pengetahuan kepada khalayak luas.
Adapun agenda seminar tersebut didukung oleh keterlibatan Direktorat PPK (Pengembangan & Pemanfaatan Kebudayaan), Direktorat Jenderal Kebudayaan Republik Indonesia. (*)
Untuk mendapatkan berita-berita terkini RadarBuleleng.id, silahkan bergabung di WhatsApp Channel "Radar Buleleng" dengan klik link berikut ini: Join WhatsApp Channel Radar Buleleng.
Editor : Eka Prasetya