SINGARAJA, RadarBuleleng.id - Putu Mertayasa, 43, warga yang beralamat di Desa Anturan, Kecamatan/Kabupaten Buleleng, Bali, dinyatakan sebagai korban dari KMP Tunu Pratama Jaya, yang tenggelam di perairan Selat Bali pada Rabu (2/7/2025) pekan lalu.
Jenazahnya ditemukan di perairan Desa Pengambengan, Kabupaten Jembrana, pada Rabu (9/7/2025) pagi.
Mendiang diketahui bekerja sebagai sopir truk tronton lintas Pulau Jawa dan Bali untuk mengangkut berbagai material bangunan.
Jenazah mendiang kini telah disemayamkan di rumah duka yang terletak di Jalan Pulau Serangan, Kelurahan Penarukan, Kabupaten Buleleng.
Menurut sang istri, Kadek Sudiartini, 38, mendiang sudah bertahun-tahun bekerja sebagai sopir. Awalnya mendiang menjadi sopir angkutan umum jurusan Denpasar-Singaraja.
Seiring berkurangnya jumlah penumpang, ayah dari empat orang anak itu memilih bekerja sebagai sopir truk jurusan Bali, Lombok, hingga Sumbawa. Belakangan, ia menjadi sopir truk kontainer untuk jurusan Jawa-Bali.
Baca Juga: Tim SAR Kembali Temukan KMP Tunu Pratama Jaya. Salah Satunya Berasal dari Buleleng
Pada Senin (30/6/2025), mendiang pamit kepada keluarganya untuk berangkat bekerja. Hari itu dia mendapat tugas mengambil material di Surabaya dan membawanya ke Tabanan.
Biasanya dia berangkat dari tempat tinggalnya di Desa Anturan, menuju Tabanan untuk mengambil truk.
Namun hari itu berbeda. Mendiang meminta agar istrinya mengantar ke Terminal Sangket. “Biasanya bawa sepeda motor sendiri. Tapi hari itu, rencananya mau naik angkutan,” ujarnya.
Kala itu perjalanan sudah penuh dengan drama. Dalam perjalanan menuju Terminal Sangket, tepatnya saat sampai di Desa Sambangan, Putu Mertayasa teringat jika dompet ketinggalan di rumah. Mereka pun harus putar haluan.
Sesampai di Tabanan, ketika Mertayasa hendak berangkat, ternyata aki kendaraan meledak. Namun Mertayasa bersikukuh berangkat, karena akan mengganti aki di Surabaya.
“Banyak kejanggalan. Seperti tidak diizinkan berangkat, tapi karena tuntutan pekerjaan mau bagaimana lagi. Mungkin takdir nasibnya begitu,” cerita Sudiartini saat ditemui di rumah duka.
Singkat cerita, mendiang Putu Mertayasa berhasil sampai di Surabaya pada Selasa (1/7/2025). Ia menunggu giliran muatan besi dan semen.
Pada Rabu (2/7/2025) dia melanjutkan perjalanan kembali ke Tabanan. Terakhir ia melakukan video call dengan keluarganya sekitar pukul 20.30 WITA. Ketika itu, mendiang mengaku berada di Situbondo, Jawa Timur.
Sekitar pukul 23.30, Mertayasa sempat membuat unggahan suasana macet di pelabuhan. Lazimnya, pada pagi hari, Mertayasa akan mengabari keluarganya.
Namun pagi itu, Mertayasa tidak memberikan kabar. Naas, hari itu keluarga menerima kabar bahwa ada kapal tenggelam. Bahkan salah seorang penumpangnya adalah Mertayasa.
“Langsung khawatir, sudah ada dibilang sama adiknya, ‘Mbok, ada kapal tenggelam, coba telepon Putu’. Saya telepon sudah tidak aktif HP-nya. Dari situlah semakin khawatir,” ceritanya.
Dia semakin yakin jika suaminya berada dalam daftar penumpang KMP Tunu Pratama Jaya, berdasarkan kesaksian rekan sesama sopir. Begitu juga dengan petugas tiket.
Ia sempat mencari kabar tentang keberadaan suaminya selama sepekan terakhir. Namun selalu tak membuahkan hasil.
Hingga pada Selasa (8/7/2025) malam, ia memimpikan sang suami. “Mani mulih (besok pulang) gitu dia bilang. Paginya sudah ada yang ketemu dan siangnya dapat informasi kalau itu suami saya. Sekarang sudah lebih lega, nggak bertanya-tanya lagi. Kalau sebelumnya selalu deg-degan, apakah bisa ketemu suami saya atau nggak,” ujarnya.
Kini pihak keluarga berencana melakukan upacara kremasi terhadap mendiang Putu Mertayasa. Keluarga masih menunggu hari baik untuk melangsungkan upacara. (*)
Untuk mendapatkan berita-berita terkini RadarBuleleng.id, silahkan bergabung di WhatsApp Channel "Radar Buleleng" dengan klik link berikut ini: Join WhatsApp Channel Radar Buleleng.
Editor : Eka Prasetya