Bali Birokrasi Ekonomi Bisnis Entertainment Hukum Kriminal Kesehatan Kuliner Nasional Nusantara Olahraga Otomotif Pariwisata Pendidikan Politik Sosial Budaya Update Buleleng

Belajar Mandarin di Beijing, Saat Bahasa Inggris Tak Lagi Banyak Membantu

Eka Prasetya • Rabu, 20 Mei 2026 | 09:25 WIB
BELAJAR BAHASA MANDARIN: Jurnalis peserta CIPCC dari kawasan Asia Pasifik dan Karibia saat mengikuti kelas Bahasa Mandarin dasar di Renmin University of China pada Senin (18/5/2026). (Eka Prasetya/Radar Buleleng)
BELAJAR BAHASA MANDARIN: Jurnalis peserta CIPCC dari kawasan Asia Pasifik dan Karibia saat mengikuti kelas Bahasa Mandarin dasar di Renmin University of China pada Senin (18/5/2026). (Eka Prasetya/Radar Buleleng)

 

Jurnalis Radar Buleleng, Eka Prasetya, mendapat kesempatan mengikuti program China International Press Communication Centre (CIPCC). Program ini diikuti 100 jurnalis dari 90 negara. Ia akan tinggal di Beijing, Tiongkok, hingga bulan Agustus mendatang. Berikut catatan perjalanannya.

RadarBuleleng.id - Bahasa Inggris yang selama ini terasa cukup ampuh untuk bepergian ke luar negeri, mendadak seperti kehilangan kesaktiannya saat saya tiba di Tiongkok (China).

Setidaknya itu yang saya rasakan sejak pertama kali mendarat di Shanghai hingga akhirnya menetap sementara di Beijing.

Di Bali, mencari orang yang memahami Bahasa Inggris bukan perkara sulit. Bahkan banyak warga yang mungkin tak terlalu fasih berbicara, tetapi masih cukup mengerti maksud lawan bicara. 

Terlebih mereka yang bekerja di hotel, restoran, atau sektor pelayanan publik. Bahasa Inggris sudah seperti “bahasa kedua” di kawasan wisata.

Namun situasinya berbeda di Tiongkok.

Saat berada di Bandara Pudong Shanghai maupun Beijing Capital Airport, komunikasi dalam Bahasa Inggris memang masih memungkinkan. 

Petugas bandara cukup komunikatif dan memahami pertanyaan dasar para pelancong asing.

Tetapi semuanya berubah ketika saya memasuki kawasan kampus Renmin University of China di Beijing.

Jumlah penutur Bahasa Inggris di sana terasa menurun drastis. Tidak banyak warga lokal yang memahami percakapan sederhana dalam Bahasa Inggris. 

Bahkan untuk urusan paling sederhana seperti membeli makanan, saya hanya bisa mengandalkan bahasa tubuh.

Akhirnya, teknologi menjadi penyelamat. Saya mulai akrab dengan layanan translate milik Yandex. 

Hampir setiap kali makan di kantin atau restoran sekitar kampus, saya akan memotret daftar menu, menerjemahkannya lewat aplikasi, lalu menunjuk gambar atau tulisan makanan yang ingin saya pesan kepada pelayan.

Lucunya, pola komunikasi setengah digital dan setengah bahasa isyarat itu justru cukup efektif.

“Ini,” kata saya sambil menunjuk layar ponsel.

Pelayan mengangguk. Makanan datang. Selesai.

Tak banyak percakapan. Tetapi semua saling memahami.

Situasi itu rupanya juga menjadi perhatian penyelenggara China International Press Communication Center (CIPCC). 

Dalam program yang diikuti para jurnalis dari kawasan Asia Pasifik dan Karibia itu, peserta mendapat kelas khusus Bahasa Mandarin dasar.

Harapannya sederhana. Agar para jurnalis asing bisa lebih mudah berinteraksi dengan masyarakat Tiongkok selama berada di Beijing.

Kelas berlangsung di Lide Building, sebuah gedung di sisi timur kampus Renmin University. 

Dari apartemen tempat saya tinggal di ujung barat kampus, perjalanan menuju kelas memerlukan waktu sekitar 15 menit berjalan kaki.

Lumayan juga. Terutama ketika suhu Beijing mulai terasa menusuk, meski hari sudah beranjak siang.

Pada pertemuan pertama Senin (18/5/2026) lalu, jurnalis Asia Pasifik digabung satu kelas dengan peserta dari kawasan Karibia. 

Hari itu kami diajar oleh Shu An, seorang pengajar Bahasa Mandarin yang ramah dan sangat sabar menghadapi peserta dari berbagai negara.

Dari Shu An saya baru memahami bahwa Bahasa Mandarin bukan sekadar soal menghafal kata, tetapi juga soal intonasi.

Satu kata bisa memiliki arti berbeda hanya karena nada pengucapannya berubah.

Ada ā dengan nada datar. Á bernada naik. Ǎ bernada turun lalu naik. Dan à dengan nada turun. Empat intonasi itu menjadi dasar penting dalam pengucapan Bahasa Mandarin.

Di kelas itu kami mulai mempelajari kata-kata sederhana. Seperti nǐ hǎo dan nǐn hǎo untuk menyapa, wǒ yang berarti saya, nǐmen yang berarti kalian, duìbuqǐ yang bermakna maaf atau permisi, hingga búkèqi yang berarti sama-sama atau tidak masalah.

Suasana kelas dibuat santai dan interaktif. Kami tidak hanya membaca dan menghafal, tetapi juga diminta langsung mempraktikkan percakapan sederhana dengan sesama peserta.

Tiga setengah jam kelas berlalu tanpa terasa membosankan.

Sesekali ruangan dipenuhi tawa ketika pengucapan peserta terdengar keliru dan mengubah arti kata menjadi sesuatu yang lucu.

Seorang jurnalis asal Malaysia, Siti Zanariah Nor, bahkan berseloroh dirinya mungkin akan melanjutkan kursus Bahasa Mandarin sepulang dari Beijing nanti.

“Banyak ada kawan berbahasa Mandarin di Malaysia. Di sini dapat kelas basic, nanti kembali Malaysia, bisa ambil kelas advance,” katanya sambil tertawa.

Dan saya mulai sadar, di Tiongkok, belajar beberapa kata Mandarin ternyata bukan sekadar tambahan kemampuan. 

Kadang, itu menjadi cara paling sederhana untuk membuka percakapan — dan membuka pengalaman baru. (*)

 

Untuk mendapatkan berita-berita terkini RadarBuleleng.id, silahkan bergabung di WhatsApp Channel "Radar Buleleng" dengan klik link berikut ini: Join WhatsApp Channel Radar Buleleng.

 

Editor : Eka Prasetya
#beijing #bahasa mandarin #tiongkok #buleleng #jurnalis