Bali Birokrasi Ekonomi Bisnis Entertainment Hukum Kriminal Kesehatan Kuliner Nasional Nusantara Olahraga Otomotif Pariwisata Pendidikan Politik Sosial Budaya Update Buleleng

Duh! Jelang Galungan, Harga Sarana Upakara Melonjak. Kelapa Daksina Tembus Rp 15 Ribu

Marsellus Pampur • Kamis, 10 April 2025 | 18:05 WIB

 

HARGA NAIK: Suasana jual beli sarana upakara di Pasar Pudak, Gianyar, Bali.
HARGA NAIK: Suasana jual beli sarana upakara di Pasar Pudak, Gianyar, Bali.

RadarBuleleng.id – Menjelang Hari Raya Galungan, harga sejumlah sarana upacara umat Hindu di Bali meroket tajam. 

Salah satu yang paling mencolok adalah kelapa Daksina, yang kini dijual hingga di atas Rp15 ribu per butir. Padahal, biasanya kelapa jenis ini hanya dibanderol antara Rp 5–10 ribu per butir.

Fenomena ini bukan hal baru. Setiap menjelang hari besar keagamaan, lonjakan permintaan terhadap sarana upacara membuat harga-harga melonjak drastis. 

"Kebutuhan masyarakat meningkat signifikan. Setiap keluarga dan banjar akan menyiapkan berbagai sarana seperti janur, bunga, buah, dan lainnya," jelas Prof. I Made Sara, pengamat ekonomi dari Universitas Warmadewa Denpasar.

Menurutnya, kenaikan harga merupakan konsekuensi logis dari permintaan yang tinggi. 

Namun, kondisi ini bisa diperparah oleh terbatasnya pasokan, baik karena faktor cuaca, musim panen, maupun hambatan logistik. 

"Jika suplai tak sebanding dengan permintaan, otomatis harga akan terdongkrak," ujarnya.

Baca Juga: Sambut Galungan dan Kuningan, Disperindag Gelar 8 Kali Pasar Murah. Harga LPG Cuma Rp 18 Ribu!

Tak hanya itu, praktik spekulasi dari pedagang juga ditengarai turut andil dalam lonjakan harga. 

"Ada pedagang yang memanfaatkan momen ini untuk ambil untung lebih. Meski tidak semua, tapi praktik seperti ini bisa menambah tekanan pada harga pasar," tambahnya.

Kelapa Daksina, janur, dan bunga adalah bagian tak terpisahkan dari ritual Galungan. Karena itu, masyarakat tetap membelinya meski harga melambung. 

"Inilah yang disebut elastisitas permintaan yang rendah. Barang tetap dibeli meski mahal, karena bersifat wajib secara adat dan spiritual," terang Prof. Sara.

Faktor lain yang ikut mendorong harga naik adalah biaya produksi dan distribusi. Sebagian besar sarana upakara seperti janur bahkan didatangkan dari Pulau Jawa, yang membuat ongkos logistik turut menekan harga jual.

Untuk mengatasi persoalan ini, Prof. Sara menyarankan pemerintah turun tangan melalui operasi pasar atau pasar murah, khususnya menjelang hari raya besar. 

Komoditas yang dijual saat pasar murah juga harus diperluas. Bukan hanya sembako, tapi juga komoditas yang terkait dengan sarana upakara.

“Pemerintah juga bisa mengedukasi masyarakat terkait perkiraan harga dan membantu distribusi langsung dari produsen ke konsumen,” sarannya.

Langkah strategis lainnya adalah menggandeng tokoh agama, bendesa adat, pedagang, dan petani untuk duduk bersama mencari solusi jangka panjang. 

"Penguatan sentra produksi lokal, pelatihan petani, perajin, hingga pengaturan rantai distribusi menjadi kunci agar fenomena ini tak terus berulang," pungkasnya. (*)

 

Untuk mendapatkan berita-berita terkini RadarBuleleng.id, silahkan bergabung di WhatsApp Channel "Radar Buleleng" dengan klik link berikut ini: Join WhatsApp Channel Radar Buleleng.

Editor : Eka Prasetya
#kelapa #bali #hindu #Janur #daksina #bunga #hari raya #galungan #pedagang