Bali Birokrasi Ekonomi Bisnis Entertainment Hukum Kriminal Kesehatan Kuliner Nasional Nusantara Olahraga Otomotif Pariwisata Pendidikan Politik Sosial Budaya Update Buleleng

Ratusan Siswa SMP di Buleleng Belum Bisa Membaca, Wabup Supriatna Ungkap Akar Masalahnya

Eka Prasetya • Selasa, 15 April 2025 | 21:24 WIB

 

Wakil Bupati Buleleng, Gede Supriatna dalam satu kesempatan pada hari pertamanya ngantor dan bertugas. Ia mengaku masih adaptasi.
Wakil Bupati Buleleng, Gede Supriatna dalam satu kesempatan pada hari pertamanya ngantor dan bertugas. Ia mengaku masih adaptasi.

SINGARAJA, RadarBuleleng.id – Wakil Bupati Buleleng, Gede Supriatna menaruh perhatian serius terhadap temuan Dewan Pendidikan mengenai masih banyaknya siswa SMP yang belum lancar membaca dan menulis. 

Ia pun langsung memanggil Dinas Pendidikan, Pemuda dan Olahraga (Disdikpora) serta Dewan Pendidikan Buleleng untuk membahas solusi konkrit terkait masalah tersebut.

Berdasarkan hasil verifikasi dan validasi Disdikpora Buleleng, saat ini ada 34.062 orang siswa SMP di Buleleng.

Dari jumlah tersebut, sebanyak 155 orang siswa tidak bisa membaca sama sekali. Selain itu 208 orang siswa tidak lancar membaca. 

Wabup Supriatna mengapresiasi data yang disampaikan Dewan Pendidikan. Ia menyebut data ini sebagai pijakan penting untuk segera menyelesaikan persoalan pendidikan di Buleleng.

“Kami sebenarnya berterima kasih atas data yang disampaikan Dewan Pendidikan. Dengan adanya data ini, kami bisa cepat mengetahui dan menyelesaikan persoalan pendidikan di Buleleng,” tegasnya.

Baca Juga: Ratusan Pelajar SMP di Buleleng Kesulitan Membaca dan Menulis, Dewan: Jangan Sudutkan Pendidikan

Supriatna mendorong kolaborasi antara Disdikpora dan Dewan Pendidikan untuk mencari solusi yang lebih maksimal. Meskipun beberapa metode penanganan telah dilakukan, hasilnya masih belum optimal.

“Tentu ada metode yang sudah dilakukan, namun belum maksimal. Ini harus ditingkatkan. Kami harap semua pihak yang peduli pendidikan, termasuk perguruan tinggi, ikut berkolaborasi menyelesaikan masalah ini,” lanjutnya.

Dalam waktu dekat, Dewan Pendidikan Buleleng akan melibatkan para mahasiswa dari sejumlah kampus di Buleleng sebagai relawan. Mereka akan mendampingi siswa yang masih tertinggal dalam kemampuan membaca dan menulis.

Lebih lanjut Supriatna mengatakan, akar persoalan siswa tidak bisa baca tulis bukan semata pada metode pengajaran di sekolah. Melainkan dominan berasal dari lingkungan keluarga dan kondisi psikologis siswa.

Dari data yang ada, 52 persen siswa kurang motivasi belajar dan 18 persen kurang dukungan keluarga. 

“Artinya, 60 persen masalah justru dari pribadi siswa dan lingkungannya di rumah,” jelasnya.

Faktor lain seperti pembelajaran yang belum tuntas, miskonsepsi kurikulum, hingga ketakutan guru terhadap ancaman hukum saat memberikan tindakan tegas juga turut menghambat dalam mendidik siswa secara maksimal.

“Sekarang guru itu kalau agak keras sedikit langsung viral, kena masalah hukum. Ini membuat guru jadi ragu memberikan penekanan kepada siswa yang perlu perhatian khusus,” imbuhnya.

Supriatna juga menyoroti peran teknologi informasi yang menurutnya turut berkontribusi menghambat konsentrasi belajar siswa.

“Ada temuan anak tidak bisa menulis, tapi lancar mengetik di HP. Tidak bisa membaca, tapi kalau komunikasi lewat gadget sangat lancar. Bukan berarti kita kesampingkan teknologi, tapi kita atur supaya anak bisa fokus belajar,” ujarnya.

Ia pun menyarankan agar penggunaan ponsel di sekolah dibatasi. Apabila orang tua merasa kesulitan menghubungi anaknya, Pemkab siap membuat sistem komunikasi alternatif yang lebih terstruktur.

Supriatna menargetkan penyelesaian persoalan siswa belum bisa baca tulis bisa mulai terlihat hasilnya dalam satu semester ke depan. (*)

 

Untuk mendapatkan berita-berita terkini RadarBuleleng.id, silahkan bergabung di WhatsApp Channel "Radar Buleleng" dengan klik link berikut ini: Join WhatsApp Channel Radar Buleleng.

Editor : Eka Prasetya
#kampus #viral #smp #Gede Supriatna #menulis #mahasiswa #hukum #Dewan Pendidikan #pendidikan #Disdikpora #buleleng #relawan #siswa #kurikulum #wakil bupati #membaca