RadarBuleleng.id – Fenomena minim murid baru kembali menghantui dunia pendidikan dasar di Provinsi Bali. Seperti yang terjadi di Kabupaten Jembrana.
Di SD Negeri 5 Penyaringan, Kecamatan Mendoyo, pada tahun ajaran 2025/2026 ini tak mendapat satu pun pendaftar baru.
Sekolah yang terletak di Banjar Yehmecebur, Desa Penyaringan itu praktis tak memiliki siswa kelas satu.
Dengan demikian, aktivitas belajar-mengajar hanya berlangsung untuk kelas dua hingga enam.
“Sejak 2023 memang pendaftar terus menurun. Tahun ini, tidak ada satu pun murid yang mendaftar di kelas satu,” ujar Kabid Pembinaan Sekolah Dasar Disdikpora Jembrana, Nyoman Koriawan.
Menurut data Dinas Pendidikan Kepemudaan dan Olahraga (Disdikpora) Jembrana, tren ini sudah berlangsung tiga tahun terakhir.
Tahun ajaran 2023 hanya ada empat murid baru dengan total 50 siswa. Tahun 2024, pendaftar naik sedikit menjadi lima orang, tapi karena lulusan kelas enam cukup banyak, total siswa justru berkurang jadi 48.
Tahun ini, tanpa pendaftar baru, total siswa tinggal 36 orang dari kelas dua sampai enam.
Kondisi ini diduga disebabkan oleh makin sedikitnya keluarga usia produktif yang tinggal di sekitar wilayah sekolah.
“Banyak penduduk usia kerja yang merantau keluar desa, bahkan keluar daerah,” jelas Koriawan.
Kepala Disdikpora Jembrana, I Gusti Putu Anom Saputra, menambahkan sebelumnya sekolah sempat memetakan ada dua orang calon murid baru yang berpotensi mendaftar ke SDN 5 Penyaringan.
Namun, akhirnya orang tua mereka memilih menyekolahkan anak-anaknya ke sekolah lain yang jaraknya lebih jauh.
“Mereka lebih memilih sekolah lain yang dianggap lebih ramai atau fasilitasnya lebih lengkap, meski lebih jauh dari rumah,” ujarnya.
Tak hanya SDN 5 Penyaringan, sekolah lain seperti SDN 2 Pulukan di Kecamatan Pekutatan juga mengalami nasib serupa.
Tahun ajaran ini, sekolah hanya mendapat tiga orang murid baru. Jauh menurun dibanding tahun sebelumnya yang mencapai 15 murid.
Minimnya pendaftar di SDN 2 Pulukan diduga karena semakin banyak orang tua yang memilih menyekolahkan anak-anaknya ke Madrasah Ibtidaiyah (MI) yang lokasinya berdekatan.
“Ada pergeseran preferensi. Banyak yang memilih madrasah,” ujar Anom.
Disdikpora Jembrana kini tengah melakukan evaluasi menyeluruh terhadap sekolah-sekolah dengan jumlah murid minim.
Evaluasi ini penting untuk menentukan langkah ke depan, apakah dilakukan penggabungan, relokasi, atau penyesuaian lainnya.
Tahun lalu, dua SD Negeri di Jembrana resmi ditutup dan digabungkan karena alasan serupa. SDN Blimbingsari ditutup karena jumlah siswa yang terus menurun, sementara SDN 3 Pekutatan ditutup karena terdampak pembangunan theme park Kerthi Bali Semesta dan rendahnya jumlah murid baru.
“Evaluasi kami lakukan setiap tahun. Jika jumlah murid terus merosot, harus diambil keputusan agar kualitas pendidikan tetap terjaga,” tegas Anom. (*)
Untuk mendapatkan berita-berita terkini RadarBuleleng.id, silahkan bergabung di WhatsApp Channel "Radar Buleleng" dengan klik link berikut ini: Join WhatsApp Channel Radar Buleleng.
Editor : Eka Prasetya