SINGARAJA, RadarBuleleng.id - Politisi perempuan yang masih bertahan di DPRD Buleleng semakin sedikit.
Khusus untuk DPRD Buleleng periode 2024-2029, diprediksi hanya ada 5 orang politisi perempuan yang masih bertahan.
Padahal pada periode 2019-2024, ada 8 orang politisi perempuan yang berhasil duduk di DPRD Buleleng.
Para politisi perempuan yang duduk di DPRD Buleleng periode 2019-2024 adalah Ni Luh Sri Seniwi, Ni Luh Srisami, Ni Made Lilik Nurmiasih, dan Ni Kadek Turkini dari PDI Perjuangan.
Kemudian ada nama Made Putri Nareni dan Ni Ketut Windrawati dari Partai Nasdem. Luh Hesti Ranitasari dari Partai Demokrat, dan Luh Marleni dari Partai Gerindra.
Berdasarkan rekapitulasi suara hasil Pemilu 2024, diprediksi hanya ada 5 orang saja yang bisa duduk di DPRD Buleleng periode 2024-2029.
Baca Juga: Berikut 45 Anggota DPRD Buleleng Periode 2024-2029 Terpilih Hasil Pemilu 2024
Dari 5 orang itu, sebanyak 4 orang diantaranya adalah calon petahana alias incumbent.
Mereka adalah Ni Kadek Turkini yang memperoleh 6.643 suara dan Ni Made Lilik Nurmiasih yang mengantongi 4.554 suara. Keduanya dari PDI Perjuangan.
Lalu ada nama Made Putri Nareni dari Partai Nasdem yang mengantongi 3.520 suara. Luh Marleni dari Partai Gerindra yang mengantongi 3.074 suara.
Serta ada politisi pendatang baru. Dia adalah Ni Wayan Parlina Dewi, politisi Partai Golkar yang mengumpulkan 5.127 suara.
Komposisi ini bisa saja berubah apabila terjadi perselisihan hasil penghitungan suara caleg DPRD Buleleng di Mahkamah Konstitusi.
Pengamat politik di Buleleng, Wayan Sudira mengatakan, keberhasilan dan kegagalan dalam proses Pemilu merupakan hal yang lumrah terjadi.
Hanya saja pada Pemilu kali ini, cukup banyak caleg perempuan yang gagal bertahan. Tercatat ada 4 orang petahana yang gagal bertahan.
“Tentu masyarakat punya penilaian sendiri. Karena masyarakat yang menentukan wakil-wakil mereka di DPRD Buleleng,” ujar Sudira.
Menurutnya selama ini politisi perempuan memang relatif sulit menembus kursi parlemen.
Padahal regulasi sudah mengharuskan partai politik mengakomodasi sedikitnya 30 persen keterwakilan perempuan dalam daftar caleg.
Masalahnya saat caleg-caleg perempuan berkompetisi secara terbuka, tingkat elektabilitas mereka relatif lebih rendah ketimbang caleg laki-laki.
Menurutnya para perempuan yang ingin merebut kursi DPRD Buleleng sebaiknya harus mulai berinvestasi di konstituen mereka.
Caleg dengan status petahana misalnya, harus menunjukkan kinerja mereka saat bertugas di DPRD Buleleng.
Caleg perempuan juga diharapkan kritis terhadap kebijakan-kebijakan pemerintah yang dinilai diskriminatif terhadap kaum perempuan.
Sementara caleg perempuan pendatang baru, bisa melakukan investasi dengan membina konstituen di kelompok perempuan.
“Dia harus mendalami kekhasan dan karakteristik perempuan di wilayah dia. Suara perempuan itu sebenarnya potensial. Buktinya jumlah pemilih perempuan saat Pemilu 2024 itu lebih banyak dari pemilik laki-laki,” ungkap pria yang mantan anggota Bawaslu Buleleng itu.
Selain itu, ia berharap agar partai politik benar-benar melakukan kaderisasi terhadap kader perempuan mereka.
Harapannya kader-kader itu bisa mengantongi suara yang cukup tinggi, sehingga peluang lolos ke gedung dewan juga semakin terbuka.
“Di beberapa partai itu kesannya caleg perempuan itu hanya untuk memenuhi kuota saja. Harapannya nanti ada kaderisasi yang simultan, supaya yang dipasang itu perempuan-perempuan tangguh yang punya elektabilitas,” kata Sudira. (*)
Editor : Eka Prasetya