Bali Birokrasi Ekonomi Bisnis Entertainment Hukum Kriminal Kesehatan Kuliner Nasional Nusantara Olahraga Otomotif Pariwisata Pendidikan Politik Sosial Budaya Update Buleleng

Kenapa Banyak yang Kecewa Gong Kebyar Legendaris Buleleng Batal Tampil Mebarung? Begini Ceritanya

Eka Prasetya • Rabu, 3 April 2024 | 02:09 WIB

 

KECEWA: Penabuh menurunkan perangkat gamelan dari panggung karena kecewa tidak mendapat waktu pementasan yang layak
KECEWA: Penabuh menurunkan perangkat gamelan dari panggung karena kecewa tidak mendapat waktu pementasan yang layak

SINGARAJA, RadarBuleleng.id - Penampilan gong kebyar legendaris yang akan mebarung saat penutupan HUT Kota Singaraja ke-420 banyak dinanti masyarakat maupun pecinta seni.

Sedianya sekaa gong legendaris yang akan mebarung adalah Sekaa Gong Kebyar Jaya Kusuma Desa Jagaraga dan Sekaa Gong Kebyar Eka Wakya Banjar Paketan Desa Adat Buleleng.

Kedua sekaa itu dijadwalkan tampil pada penutupan HUT Kota Singaraja ke-420, yang digelar di Lapangan Bhuana Patra Singaraja, pada Sabtu (30/3/2024) lalu.

Namun apa mau dikata. Para pecinta seni yang menanti pementasan keduanya harus gigit jari.

Para seniman legendaris Buleleng itu ngambul dan memilih turun dari panggung. Padahal pementasan belum selesai. 

Penampilan kedua sekaa itu memang banyak dinanti. Karena keduanya punya sejarah tersendiri.

Saat itu Desa Jagaraga terkenal dengan maestronya yang bernama Gde Manik. Sementara Banjar Paketan memiliki maestro bernama Gede Mendra.

Kedua maestro itu kerap adu keahlian di hadapan penonton. Terutama soal kemampuan mekendang.

Ketika kedua sekaa ini bertemu, warga yang mukim di Desa Jagaraga maupun yang tinggal di Banjar Paketan akan ketog semprong alias berduyun-duyun menonton pementasan. Mendukung sekaa-nya masing-masing.

Kedua sekaa tersebut terakhir kali mebarung pada tahun 1951 silam. Saat itu mereka mebarung di alun-alun Buleleng, yang kini menjadi Pura Agung Jagatnatha Singaraja.

Salah seorang saksi hidup yang sempat menyaksikan kedua sekaa itu mebarung adalah Made Wirtana, warga Buleleng yang juga penerima Anugerah Wija Kusuma dari Pemkab Buleleng pada tahun 2015 silam.

“Waktu itu saya masih di sekolah rakyat. Usia saya sekitar 10 tahun,” kata Wirtana.

Kini sudah lebih dari 70 tahun kedua sekaa ini tidak pernah bersua lagi dalam sebuah pentas mebarung

Mereka dijadwalkan mebarung lagi pada penutupan HUT Kota Singaraja ke-420 pada Sabtu (30/3/2024) lalu.

Tentu saja pertemuan keduanya sangat dinantikan. Para pecinta seni berharap bisa menyaksikan pertemuan kedua sekaa gong kebyar tersebut. Terlebih dalam pementasan itu para penabuh legendaris yang telah berusia sepuh ikut terlibat.

Namun harapan hanya tinggal harapan. Para seniman akhirnya ngambul dan turun dari panggung. Mereka juga menurunkan perangkat gamelan dari panggung.

Mereka ngambul gara-gara merasa diperlakukan kurang pantas. Panitia dianggap tidak memberikan porsi yang layak kepada seniman tradisi. Ditambah lagi seniman lingsir tidak mendapat perlakuan yang sesuai.

Padahal kedua sekaa itu sudah melakukan persiapan maksimal. Sekaa Gong Kebyar Jaya Kusuma misalnya. Mereka nedunang gong duwe yang selama ini distanakan di Pura Desa Jagaraga.

Tak cukup itu saja. Sekaa juga mundut adegan maestro gong kebyar asal Jagaraga, yakni mendiang Gde Manik.

Demikian pula dengan Sekaa Gong Kebyar Eka Wakya yang nedunang gong duwe yang distanakan di Pura Pengaruman Banjar Paketan.

Batalnya penampilan mebarung sekaa gong itu, tentu saja membuat para penonton dan penikmat seni kecewa.

Penerima anugerah Wija Kusuma, Made Wirtana sengaja menyempatkan waktu datang ke Lapangan Bhuana Patra pada Sabtu lalu. Pria yang telah berusia 83 tahun itu hadir bersama istri dan anak-anaknya.

Meski telah sepuh, dia tetap bersemangat datang ke lapangan. Berkumpul bersama ribuan orang lain yang memadati lapangan. 

Wirtana ingin nostalgia menyaksikan pertarungan keahlian para seniman karawitan dari kedua desa yang menjadi magnet gong kebyar di Buleleng.

“Sudah puluhan tahun mereka ini tidak mebarung. Tentu saya harus nonton, mumpung ada kesempatan,” katanya.

Lama menanti, kedua sekaa ternyata urung tampil. Penampilan kedua sekaa tidak tuntas. Tidak sempat ada penampilan mebarung seperti yang direncanakan.

Tentu saja Wirtana merasa kecewa. Namun dia tidak bisa berbuat banyak, karena dia hanya seorang penonton dan penikmat seni.

Wirtana hanya berharap mendapat kesempatan lagi menyaksikan penampilan mebarung antara Sekaa Gong Jagaraga dan Sekaa Gong Banjar Paketan, sebagaimana ia saksikan puluhan tahun silam. (*)

Editor : Eka Prasetya
#eka wakya #Jagaraga #seniman #hut kota singaraja #gong kebyar #buleleng #gong legendaris