Bali Birokrasi Ekonomi Bisnis Entertainment Hukum Kriminal Kesehatan Kuliner Nasional Nusantara Olahraga Otomotif Pariwisata Pendidikan Politik Sosial Budaya Update Buleleng

Sejarah Tari Joged Bumbung Bali. Diyakini Lahir di Buleleng, Sempat Dapat Stigma karena Aksi Joged Jaruh

Eka Prasetya • Minggu, 6 Oktober 2024 | 00:04 WIB

 

HAPUS STIGMA: Pementasan sekaa joged Buleleng pada ajang PKB di Madya Mandala Taman Budaya Bali (Art Centre).
HAPUS STIGMA: Pementasan sekaa joged Buleleng pada ajang PKB di Madya Mandala Taman Budaya Bali (Art Centre).

RadarBuleleng.id - Tari Joged Bumbung kembali menjadi perbincangan di Bali, khususnya di Kabupaten Buleleng.

Kali ini bukan persoalan penampilan joged jaruh alias joged yang bernuansa sensual hingga menyentuh porno.

Joged jadi perbincangan karena ulah pengibing yang melakukan hal tidak pantas. Seperti mencium penari dari belakang, hingga memberikan saweran menggunakan mulut.

Ditambah lagi ada penari joged yang berani speak up meluapkan kekecewaannya, gara-gara batal tampil pada acara kampanye salah satu pasangan calon Gubernur dan Wakil Gubernur Bali.

Baca Juga: Viral, Penari Joged Asal Buleleng Menangis Sig-Sigan Gegara Batal Tampil saat Kampanye Koster-Giri

Joged Bumbung merupakan tarian tradisional Bali yang sangat populer dan unik. Tarian ini dikenal karena interaksi antara penari wanita dan penonton pria yang diajak menari bersama.

Mengutip dari situs Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud), Joged Bumbung dipercaya berasal dari kalangan petani di Bali.

Tarian ini awalnya berfungsi sebagai hiburan setelah seharian bekerja keras di sawah. 

Dengan iringan musik sederhana, para petani menciptakan tarian yang ceria untuk melepaskan penat.

Tarian ini diperkirakan pertama kali muncul di daerah Buleleng pada sekitar tahun 1940-an. Desa Lokapaksa di Kecamatan Seriri sering disebut sebagai salah satu tempat di mana Joged Bumbung pertama kali dipentaskan.

Baca Juga: Tim Koster-Giri Berikan Klarifikasi Soal Penari Joged Batal Tampil di Acara Kampanye. Sang Penari Minta Maaf Gegara Keluhannya Viral

Seiring berjalannya waktu, Joged Bumbung semakin populer dan mengalami perkembangan. 

Tarian yang awalnya sederhana kini menjadi lebih kompleks dengan gerakan yang lebih variatif. Selain itu, kostum dan musik pengiring juga semakin beragam.

Seiring dengan perkembangan pariwisata, Joged Bumbung juga mengalami komersialisasi. Hal ini menimbulkan kekhawatiran akan terjadinya perubahan pada nilai-nilai tradisional yang terkandung dalam tarian tersebut.

Alhasil muncul joged jaruh. Penari membawakan tarian dengan gaya yang sensual. Lama kelamaan, akhirnya kesan porno melekat pada tarian tersebut.

Joged bumbung akhirnya ditetapkan sebagai salah satu warisan budaya tak benda. Lewat penetapan tersebut, pemerintah, sekaa joged, dan masyarakat, wajib menempatkan joged bumbung sebagai kesenian yang luhur, bukan sebagai kesenian yang porno.

Dalam jurnal yang berjudul Innovations of Governance in Balinese Joged Bumbung Dance in the era of Globalization, Guru besar Institut Seni Indonesia (ISI) Denpasar, Gede Arya Sugiartha mengungkapkan bahwa joged bumbung adalah genre tari tradisional Bali yang diiringi oleh gamelan (musik tradisional). 

Baca Juga: Video Penari Joged Bumbung Viral, Disbud Bali Buka Suara

Penari utama Joged Bumbung adalah seorang wanita, yang kemudian diikuti oleh penari lain yang diajak dari penonton (biasanya pria) yang bergantian menari. 

Anggota penonton yang diundang untuk menari di Bali disebut pengibing, mereka bergerak mengikuti irama penari utama dan musik pengiring dalam suasana penuh canda dan tawa. 

Khusus bagi mereka yang sangat menyukai menari, ngibing adalah hiburan yang menyenangkan.

Arya mengungkapkan, seni Joged Bumbung bersifat ceria dan romantis. Gerakan tari, kostum, koreografi, komposisi lagu, dan nuansa musik memberikan imajinasi setiap penikmatnya untuk memasuki suasana romantis yang sangat menyenangkan. 

Sebagai pengamat seni dan penikmat seni, Arya memiliki pengalaman yang sangat mengesankan dengan seni Joged Bumbung. 

“Saat masih belajar di sekolah dasar pada tahun 1970-an, saya dapat menikmati keindahan seni Joged Bumbung dengan baik. Karena itu, saya merasa terdorong untuk meluangkan waktu untuk menonton setiap pertunjukan Joged Bumbung di desa saya,” tulis Arya. 

Baca Juga: Selain Menangis Sigsigan Penari Joged Buleleng Luh Widia Juga Pernah Viral. Tolak Saweran Ngibing Pakai Mulut

Saking gandrungnya ia menonton Joged Bumbung, Arya mengaku pernah dimarahi oleh ibunya. Karena dia lebih suka menonton joged hingga mengabaikan pelajaran.

“Meskipun dimarahi, saya diam-diam selalu mencuri kesempatan untuk keluar setiap kali ada pertunjukan Joged Bumbung di desa saya,” lanjut pria kelahiran Desa Pujungan, Kecamatan Pupuan itu.

Arya menyebut hampir sebagian besar teman-teman saya yang seusia sangat menyukai pertunjukan Joged Bumbung. 

Pertunjukan Joged Bumbung selalu dipenuhi oleh penonton yang sangat menikmatinya. “Mungkin karena pada saat itu media hiburan rumah tangga seperti televisi dan video belum muncul di desa-desa Bali, atau mungkin karena seni Joged Bumbung pada saat itu memang memiliki daya tarik yang besar dan memberikan kenikmatan estetika, terutama bagi masyarakat desa,” jelasnya.

Lebih lanjut Arya menulis, dalam perkembangannya tari joged mengalami perubahan, terutama dari segi gerakan.

Gerakan dasar tema tari Joged kontemporer bersifat ambigu, tidak dapat dibedakan dari tarian lain seperti legong, kebyar, dan arja. 

Kualitas dan intensitas gerakan tangan, kaki, dan tubuh termasuk kedipan mata tidak lagi khas dan memberikan kesan romantis estetika. 

Pria yang juga Kepala Dinas Kebudayaan Bali itu menyebutkan, pada bagian pengipuk atau ibing-ibing, terjadi peningkatan intensitas gerakan pinggul, yang sebelumnya hanya pada sisi kiri dan kanan, kini melihat penambahan bagian depan, belakang, dan rotasi. 

Gerakan memutar pinggul disebut "ngebor", dan kecerdikan penari Joged dalam melakukan "ngebor" ini digunakan sebagai andalan untuk menarik penonton.

Ada nuansa yang berubah secara signifikan dari gerakan "ngebor" penari Joged saat ini, yaitu munculnya kesan romantis estetika hingga pornografi. 

Bahkan beberapa penari di luar klasifikasi "pornografi" juga tampak kotor. Hal ini terjadi ketika penari bergoyang sambil menggulung kain sehingga paha dan pakaian dalamnya sengaja diperlihatkan kepada penonton. 

Saat melakukan penelitian pada tahun 2015 silam, Arya mendapat pengakuan dari salah seorang penari joged yang terpaksa goyang ngebor. Sebab bila tidak ngebor, maka tidak ada yang mengupah ia menari.

Penari itu sebenarnya merasa tidak nyaman melakukannya karena dia tahu bahwa hal-hal seperti itu melanggar etika. 

Tetapi ketika dia berada di atas panggung, dia membaca situasi penonton, kebanyakan anak muda menyuruhnya bergoyang, sehingga itulah yang dia lakukan meskipun dia tahu itu bukan gerakan Joged Bumbung yang asli. 

Penari juga sebenarnya sangat malu melakukan goyang ngebor. Tetapi jika dia sudah mengenakan Joged Gelungan (hiasan kepala, atau mahkota) dan berada di atas panggung, kekuatan yang datang darinya akan menghilangkan rasa malu sehingga memaksanya melakukan gerakan ngebor.

Hal tersebut menyebabkan sebagian besar penari Joged saat ini merasa tidak perlu berlatih gerakan khas tari Joged Bumbung, yang penting jika gerakan tari Bali pada umumnya ditambah dengan keberanian untuk goyang ngebor mereka merasa cukup. (*)

 

Untuk mendapatkan berita-berita terkini RadarBuleleng.id, silahkan bergabung di WhatsApp Channel "Radar Buleleng" dengan klik link berikut ini: Join WhatsApp Channel Radar Buleleng.

Editor : Eka Prasetya
#joged bumbung #Joged #penari #buleleng