Bali Birokrasi Ekonomi Bisnis Entertainment Hukum Kriminal Kesehatan Kuliner Nasional Nusantara Olahraga Otomotif Pariwisata Pendidikan Politik Sosial Budaya Update Buleleng

Dari Rawa ke Pasar Dunia, Kisah Anyaman Dedalu yang Bertahan di Tengah Gempuran Teknologi Tiongkok

Eka Prasetya • Rabu, 3 Juni 2026 | 04:35 WIB
ANYAMAN KERANJANG: Salah satu produk anyaman dedalu yang dikerjakan para perajin di Provinsi Anhui, Tiongkok. Produk tersebut menjadi komoditas ekspor. (Eka Prasetya/Radar Buleleng)
ANYAMAN KERANJANG: Salah satu produk anyaman dedalu yang dikerjakan para perajin di Provinsi Anhui, Tiongkok. Produk tersebut menjadi komoditas ekspor. (Eka Prasetya/Radar Buleleng)

 

Jurnalis Radar Buleleng, Eka Prasetya, mendapat kesempatan mengikuti program China International Press Communication Centre (CIPCC). Program ini diikuti 100 jurnalis dari 90 negara. Ia akan tinggal di Beijing, Tiongkok, hingga bulan Agustus mendatang. Berikut catatan perjalanannya.

TIONGKOK identik dengan kemajuan teknologi. Kereta cepat melesat antarkota, kecerdasan buatan berkembang pesat, dan industri manufaktur terus berinovasi. 

Namun di tengah derasnya arus modernisasi itu, negeri Tirai Bambu tetap menyisakan ruang bagi warisan budaya yang tumbuh dari tangan-tangan masyarakat kecil.

Salah satunya adalah kerajinan anyaman dedalu di Kabupaten Funan, Provinsi Anhui.

Dalam rangkaian program China International Press Communication Center (CIPCC), kami bersama sejumlah jurnalis dari kawasan Asia Pasifik berkesempatan mengunjungi Huanggang Willow Weaving Intangible Cultural Heritage Exhibition Hall, pusat pelestarian anyaman dedalu yang telah diakui sebagai Warisan Budaya Tak Benda (WBTB) oleh pemerintah Tiongkok.

Lokasinya berada sekitar 40 menit perjalanan dari Kota Fuyang. Sekilas, bangunan itu tampak seperti museum biasa. 

Namun begitu memasuki ruang pameran, pengunjung langsung disambut ratusan karya anyaman yang merekam perjalanan panjang sebuah tradisi yang telah bertahan lebih dari lima abad.

Saat pertama kali melihat produk-produk yang dipajang, ingatan saya langsung melayang ke Bali. 

Bentuknya mengingatkan pada aneka kerajinan rotan yang kerap ditemui di Gianyar. Namun ketika disentuh, karakter bahannya terasa berbeda.

Bahan baku yang digunakan bukan rotan, melainkan dedalu (Salix alba). Tanaman ini tumbuh subur di kawasan rawa dan bantaran sungai. 

Di Bali, dedalu juga dapat ditemukan di sejumlah wilayah, termasuk sepanjang aliran sungai di Kabupaten Tabanan.

Batangnya ramping dan lentur. Teksturnya lebih menyerupai bambu muda dibanding rotan, namun tanpa rongga di bagian tengah. Karakter inilah yang membuatnya mudah dibentuk menjadi berbagai produk anyaman.

Bagi masyarakat Funan, dedalu bukan sekadar tanaman liar.

Ratusan tahun lalu, sebelum kawasan tersebut berkembang seperti sekarang, Funan dikenal sebagai daerah rawa yang kerap dilanda banjir besar. 

Hampir setiap satu dekade, air meluap dan merendam pemukiman warga. Kondisi itu justru membuat dedalu tumbuh subur di berbagai sudut wilayah.

Dari tanaman yang tumbuh liar itulah masyarakat setempat mulai menciptakan berbagai perlengkapan rumah tangga. Keranjang, wadah nasi, tempat penyimpanan makanan hingga kursi dibuat secara manual untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.

Kerajinan itu awalnya hanya menjadi aktivitas rumahan. Nilai ekonominya pun terbatas.

Namun semuanya berubah pada 1957 ketika Canton Fair mulai digelar di Guangzhou. 

Pameran dagang terbesar di Tiongkok itu membuka jalan bagi produk-produk lokal untuk menembus pasar internasional.

Anyaman dedalu Funan menjadi salah satu yang ikut menikmati dampaknya.

"Awalnya kerajinan ini memang hanya bisnis kecil rumah tangga, tapi sejak ada Canton Fair masyarakat bisa merasakan nilai tambah karena ekspor kerajinan," ujar Sun Chuan Gui, Anggota Komite Warisan Budaya Provinsi Anhui.

Kini produk anyaman dedalu telah menembus berbagai negara. Amerika Serikat, Kanada, Jerman, Inggris, Spanyol hingga Arab Saudi menjadi pasar tetap mereka. Di kawasan Asia Pasifik, produk serupa juga diekspor ke Australia, Pakistan, Myanmar, dan Thailand.

Di dalam gedung pameran, lebih dari 500 koleksi dipajang. Mulai dari keranjang sederhana hingga karya seni dengan tingkat kerumitan tinggi.

Salah satu sudut yang paling menarik perhatian adalah deretan foto hitam putih para perajin masa lampau. Beberapa foto diperkirakan telah berusia sekitar 150 tahun.

Wajah-wajah dalam foto itu menjadi saksi bagaimana sebuah tradisi diwariskan lintas generasi.

Tak jauh dari sana, sejumlah foto menampilkan proses pembuatan anyaman dedalu. Tahapannya ternyata tidak sederhana.

Batang dedalu yang dipanen dari tepian sungai terlebih dahulu dikupas, dipilah berdasarkan ukuran, lalu direndam agar lebih lentur. Setelah itu masuk ke tahap penganyaman, pengawetan, pewarnaan hingga pengeringan.

Teknik yang digunakan pun beragam. Hingga 2025 tercatat sedikitnya ada 10 metode anyaman yang masih digunakan para perajin, mulai dari anyaman ranting, anyaman pilin, anyaman baris hingga anyaman berpola.

Saat menyaksikan proses tersebut, pikiran saya kembali terbang ke Bali Utara.

Khususnya ke kawasan Bali Aga Buleleng yang meliputi Desa Sidetapa, Cempaga, Tigawasa, Pedawa, dan Banyuseri atau yang dikenal dengan singkatan SCTPB.

Di desa-desa tua itu, kerajinan anyaman bambu masih menjadi bagian dari kehidupan masyarakat. Proses pembuatannya pun tidak jauh berbeda dengan yang dilakukan para perajin di Funan.

Perbedaannya hanya terletak pada bahan baku.

Kesamaan itu memunculkan pertanyaan sederhana: jika anyaman dedalu dari sebuah kabupaten di Tiongkok mampu menembus pasar dunia, mengapa kerajinan anyaman Bali Aga tidak bisa?

Potensinya jelas ada. Tinggal bagaimana pengelolaan, pendampingan, inovasi desain, dan akses pasar diperkuat secara berkelanjutan.

Pemerintah Funan tampaknya memahami betul tantangan tersebut.

Untuk memastikan tradisi itu tidak hilang ditelan zaman, anyaman dedalu dimasukkan sebagai salah satu materi pembelajaran di sekolah. 

Pelatihan rutin terus diberikan kepada para perajin. Akademisi dan peneliti juga dilibatkan untuk mengembangkan motif serta desain baru agar produk tetap diminati pasar.

"Kerajinan ini adalah bagian dari budaya, sejarah, dan kehidupan masyarakat di Funan. Sehingga berbagai cara dilakukan agar kerajinan ini tetap relevan dengan kehidupan masyarakat," kata Sun Chuan Gui.

Upaya tersebut membuahkan hasil.

Saat ini terdapat sekitar 60 perusahaan kerajinan yang beroperasi di Kabupaten Funan. 

Sebanyak 18 perusahaan di antaranya masih fokus memproduksi anyaman dedalu. Sisanya mulai berinovasi menggunakan bahan lain seperti rotan, bambu, kayu, hingga plastik karena ketersediaan dedalu yang semakin terbatas.

Di tengah pesatnya perkembangan teknologi Tiongkok, kisah anyaman dedalu menjadi pengingat bahwa kemajuan tidak selalu berarti meninggalkan tradisi.

Sebaliknya, tradisi justru bisa tumbuh menjadi kekuatan ekonomi baru ketika dirawat, dikembangkan, dan diberi ruang untuk beradaptasi dengan zaman. (*)

 

Untuk mendapatkan berita-berita terkini RadarBuleleng.id, silahkan bergabung di WhatsApp Channel "Radar Buleleng" dengan klik link berikut ini: Join WhatsApp Channel Radar Buleleng.

 

Editor : Eka Prasetya
#bali aga #tiongkok #anyaman #buleleng