Bali Birokrasi Ekonomi Bisnis Entertainment Hukum Kriminal Kesehatan Kuliner Nasional Nusantara Olahraga Otomotif Pariwisata Pendidikan Politik Sosial Budaya Update Buleleng

Kekurangan Buruh Panen, Dinas Pertanian Kembali Hidupkan Sekaa Manyi

Juliadi Radar Bali • Senin, 2 Februari 2026 | 11:09 WIB
KRISIS BURUH: Salah seorang petani melakukan panen padi. Selama ini para petani kesulitan mendapatkan buruh untuk membantu panen padi.
KRISIS BURUH: Salah seorang petani melakukan panen padi. Selama ini para petani kesulitan mendapatkan buruh untuk membantu panen padi.

RadarBuleleng.id - Kekurangan tenaga panen masih menjadi persoalan serius di Kabupaten Tabanan, Bali, saat musim panen padi tiba. 

Kondisi tersebut memaksa petani menggunakan buruh panen dari luar Bali, yang berdampak pada meningkatnya biaya produksi.

Melihat persoalan tersebut, Dinas Pertanian (Distan) Kabupaten Tabanan mulai menggarap upaya menghidupkan kembali Sekaa Manyi. 

Sekaa Manyi dikenal sebagai kelompok tradisional buruh tani di Bali yang bertugas memanen padi menggunakan alat tradisional.

Plt. Kepala Dinas Pertanian Tabanan, I Made Subagia, mengakui krisis tenaga panen padi masih terjadi hingga kini. 

Ia menyebut, sebelumnya Sekaa Manyi hampir selalu ada di setiap subak di Tabanan. Namun, seiring berjalannya waktu, keberadaan kelompok tersebut perlahan menghilang dan tidak lagi aktif.

“Kami berniat mengaktifkan kembali Sekaa Manyi. Minimal, ketika terjadi kekurangan tenaga panen, Sekaa Manyi bisa membantu dari sisi tenaga,” ujar Subagia.

Menurutnya, Sekaa Manyi sejatinya merupakan bagian dari lembaga resmi di dalam subak. 

Namun, dalam tiga tahun terakhir, eksistensinya tidak begitu terlihat di banyak wilayah. Meski demikian, di beberapa subak Sekaa Manyi masih bertahan.

“Khusus di Tabanan, Sekaa Manyi masih aktif di Subak Aseman 4 wilayah Selemadeg Timur, serta beberapa subak lainnya. Hanya saja, mereka masih membutuhkan dukungan alat pertanian, seperti power thresher,” jelasnya.

Subagia menambahkan, menghidupkan kembali Sekaa Manyi tidak bisa dilakukan secara instan. 

Tantangan terbesarnya adalah mengubah pola pikir petani yang sudah terbiasa menggunakan tenaga panen dari luar daerah.

“Sekarang kami baru menyiapkan Sekaa Manyi sebagai pilot project. Harapannya, ke depan bisa menjadi contoh agar di beberapa subak lainnya Sekaa Manyi bisa dihidupkan kembali,” tandasnya. (*)

 

Untuk mendapatkan berita-berita terkini RadarBuleleng.id, silahkan bergabung di WhatsApp Channel "Radar Buleleng" dengan klik link berikut ini: Join WhatsApp Channel Radar Buleleng.

Editor : Eka Prasetya
#bali #padi #panen #musim panen #buruh #sekaa manyi #pertanian #subak #tabanan #dinas pertanian #sekaa